Oleh: Dani Hamdani

Beberapa Bahasan

- Apa maksud dari surat Al-Baqarah: 208 tersebut?
- Apa makna “masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan” dalam QS. Al-Baqarah: 208 tersebut?
- Apakah makna “masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan” berarti bermakna “masuklah salah satu jama’ah dari jama’ah Islam”?

Tinjauan Al-Qur’an

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 208)

Seandainya kita mencoba mentadabburi ayat tersebut secara sepintas, maka kandungan yang bisa kita ambil dari ayat tersebut adalah:
1. Orang yang diseru pada ayat tersebut adalah orang-orang yang beriman.
2. Ayat tersebut berupa anjuran kepada orang yang beriman untuk memasuki Islam secara keseluruhannya dan tidak parsial.
3. Ayat tersebut berupa anjuran kepada orang yang beriman untuk tidak (baca: larangan) mengikuti langkah-langkah syaithan.
4. Perintah menjadikan syaithan sebagai musuh bagi orang-orang yang beriman.

Tinjauan Asbab An-Nuzul

Seandainya kita coba menelaah Kitab Asbab An-Nuzul yang berkenaan dengan ayat tersebut, maka kita akan mengetahui bahwasannya–dalam satu riwayat–ayat tersebut berkenaan dengan sekelompok kaum Yahudi yang menghadap Rasulullah SAW yang hendak menyatakan keimanannya, namun disamping itu mereka pun (orang-orang Yahudi tersebut) meminta pula kepada Nabi SAW agar dibiarkan merayakan hari Sabtu dan mengamalkan Kitab Taurat pada malam hari. Mereka menganggap bahwa hari Sabtu merupakan hari yang harus dimuliakan, dan Kitab Taurat adalah kitab yang diturunkan oleh Allh SWT juga. Oleh karena itu, berkenaan dengan peristiwa tersebut, maka turunlah ayat tersebut di atas, yang merupakan perintah agar tidak mencampur-baurkan agama. Di antara orang-orang Yahudi yang menghadap kepada Nabi itu adalah: Abdullah bin Salam, Tsa’labah, Ibnu Yamin, Asad bin Ka’ab, Usaid bin Ka’ab, Sa’id bin ‘Amr, dan Qais bin Zaid (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ikrimah).

Tinjauan Tafsir

Berkenaan dengan surat tersebut, Sayyid Quthb dalam Fi-Zhilalil Qur’an mengatakan, “Ketika menyeru orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam kedamaian (Islam) secara total, Allah SWT memperingatkan mereka dari mengikuti langkah-langkah syaithan. Petunjuk atau kesesatan. Islam atau jahiliyah. Jalan Allah SWT atau jalan syaithan. Petunjuk Allah SWT atau kesesatan syaithan. Dengan ketegasan seperti ini seharusnya seorang muslim bisa mengetahui sikapnya, sehingga tidak terombang-ambing, tidak ragu-ragu, dan tidak bingung di antara berbagai jalan dan dua arah.

Sesungguhnya di sana tidak ada beraneka ragam manhaj yang harus dipilih salah satunya oleh seorang Mukmin, atau dicampur aduk salah satunya dengan yang lain. Tidak! Sesungguhnya orang yang tidak masuk ke dalam kedamaian (Islam) secara total, orang yang tidak menyerahkan dirinya secara murni kepada pimpinan Allah SWT dan syari’at-Nya, orang yang tidak melepaskan semua tashawwur (konsepsi), manhaj dan syari’at lain, sesungguhnya ia berada di jalan syaithan dan berjalan di atas langkah-langkah syaithan.

Di sana tidak ada solusi tengah, tidak ada manhaj gado-gado, tidak ada langkah setengah-setengah! Di sana hanya ada kebenaran dan kebathilan. Petunjuk dan kesesatan. Islam dan jahiliyah. Manhaj Allah atau kesesatan syaithan. Allah SWT menyeru orang-orang yang beriman pada bagian pertama untuk masuk ke dalam kedamaian (Islam) secara total; dan memperingatkan pada bagian kedua dari mengikuti langkah-langkah syaithan. Kemudian hati dan perasaan mereka tersadar dan rasa khawatir mereka tersentak dengan peringatan tentang permusuhan syaithan terhadap mereka tersebut. Permusuhan yang sangat jelas lagi gamblang, yang tidak akan pernah dilupakan kecuali oelh orang yang lengah, sedangkan kelengahan memang tidak pernah terjadi bersama keimanan (Quthb, 2000: 486-487).

Sementara Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menjelaskan, mengenai firman Allah SWT ‘ud khuluu fissilmi’, Al-’Aufi mengatakan bahwasannya maknanya adalah ‘Islam’ (Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Thawus, Adh-Dhahak, Qatadah, As-Suddi, dan Ibnu Zaid), sementara Adh-Dhahak mengatakan ‘ia bermakna ketaatan’ (Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Abul ‘Aliyah, dan Rabi’ bin Anas).

Mengenai firman-Nya ‘kaafah’, Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Abul ‘Aliyah, ‘Ikrimah, Rabi’ bin Anas, As-Suddi, Muqatil bin Hayyan, Qatadah, dan Adh-Dhahhak mengatakan ‘maknanya berarti jami’an (keseluruhan)’, sementara Muhahid mengatakan, “Artinya, kerjakanlah semua amal shalih dan segala macam kebajikan.” Oleh karena itu, makna keseluruhannya adalah bahwa mereka seluruhnya diperintahkan untuk mengerjakan semua cabang iman dan syari’at Islam, yang jumlahnya sangat banyak, sesuai dengan kemampuan mereka.

Pendapat Bathil

Berkenaan dengan ayat tersebut di atas, ada pendapat bathil yang dikatakan oleh sebagian orang bahwasannya ayat tersebut merupakan dalil untuk memasuki salah satu jama’ah Islam. Mereka mengatakan maksud dari “masuk Islam secara kaafah” berarti “seluruh kaum muslimin harus memasuki jama’ah mereka”, mentaati Imam mereka, mentaati tashawwur dan manhaj organisasi (baca: jama’ah) mereka–dan bukannya tashawwur dan manhaj Islam; bukannya memasuki Islam secara total (baca: kaafah); bukannya mengamalkan seluruh dalil baik yang berkenaan dengan perintah Allah SWT ataupun larangan-Nya; bukannya mengikuti Nabi-Nya yang merupakan al-qudwah fii latbiiq ar-risalah.

Bukan hanya itu, merekapun mengklaim hanya merekalah yang benar-benar ‘suci’ sedangkan selainnya (baca: di luar jama’ah mereka) masih berada dalam kubangan jahiliyah. Padahal–setelah kita baca beberapa tinjauan di atas–ayat tersebut berkenaan dengan orang-orang Yahudi yang hendak menyatakan keimanannya yang tidak mencampurkan yang haq dengan yang bathil (meski kaum mukminin tersebut berada di luar jama’ah mereka).

Itulah sebagian dari pendapat mereka berkenaan dengan ayat tersebut di atas.

Kesimpulan

Dari beberapa bahasan di atas, kita dapa enyimpulkan bahwasannya:
1. Khittab ayat tersebut adalah orang-orang Yahudi yang hendak menyatakan keimanannya kepada Nabi, akan tetapi mereka masih tetap ingin mencampur-adukkan yang haq dengan kebathilan. Ayat tersebut tidak berbicara tentang orang-orang yang beriman yang sudah benar-benar dengan keimanannya untuk tidak mencampur-adukkan yang haq dengan yang bathil. Akan tetapi, bagi orang-orang yang beriman yang belum sebenarnya beriman (baca: masih mencampur-adukan ajaran Islam dengan ajaran nenek moyang) maka kthittab ayat ini pun mengenai mereka.
2. Ayat ini merupakan tolok ukur pemisahan antara jalan yang haq (baca: Islam) dengan jalan bathil, jalan Islam dengan jalan syaithan, dan bukannya antara konsepsi jama’ah yang satu dengan konsepsi jama’ah yang lain yang merupakan bagiand ari jama’ah kaum muslimin.
3. Ayat ini tidak bisa dijadikan dalil sebagai ajakan untuk memasuki salah satu jama’ah kaum muslimin, akan tetapi ia bisa dijadikan dalil sebagai ajakan untuk memasuki kepada Islam (baca: bukan kepada jama’ah) dan keluar dari jalan kebathilan dan kejahiliyahan (baca: jalan selain Islam–dan bukannya dibaca: jalan yang ditempuh jama’ah-jama’ah kaum mukminin), karena jalan-jalan selain Islam merupakan jalan syaithan yang harus kita jauhi sebagai seorang muslim. Oleh sebab itu, manhaj Islam tidak sama dengan manhaj jama’ah.

Wallahu-a’lam.

Pustaka Acuan

1. Depag RI. Al-’Aliyu: Al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung: CV. Penerbit Diponegoro.
2. Sayyid Quthb. 2000. Tafsir Fi-ZHILALIL Qur’an. Jakarta: Robbani Press.
3. K.H.Q. Shaleh dan H.A.A. Dahlan. 2000. Asbaabun Nuzul: Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al-Qur’an. Bandung: CV. Penerbit Diponegoro.