Oleh: Dani Hamdani

 

 

Al-Qur’an Memerintahkan untuk Saling Menasihati

 

Allah berfirman:

 

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

 

Imam Syafi’I berkata, “Seandainya manusia menghayati surat ini, maka surat ini akan melapangkan kehidupan mereka.”

 

Ibnu Katsir berkata mengenai surat ini, “Dengan masa Allah bersumpah bahwa manusia itu benar-benar dalam kerugian atau kebinasaan atau kehancuran. Akan tetapi Allah memberikan pengecualian dari kerugian, kepada orang-orang yang beriman kepada hati mereka, kemudian keimanan itu diungkapkan dengan perbuatan baik (dan inilah makna Illalladziina aamanuu wa ‘amilushaalihaati), juga melaksanakan perintah Allah serta meninggalkan larangannya (inilah makna wa tawaa shau bil haqqi), juga nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran (watawaa shau bishabri) maksudnya adalah ketika menghadapi berbagai macam musibah, takdir, serta bersabar bagi mereka yang disakiti saat melakukan amar ma’ruf nahyi mungkar.”

 

“Afif Abdul Fattah Thabbarah berkata, “Allah bersumpah dengan memakai nama masa bahwa manusia itu selalu dalam keadaan merugi. Hal ini menyebabkan dia hidup celaka di dunia dan di akhirat kecuali orang-orang yang beriman kepada Allah lagi mengerjakan amal shalih, saling berpesan diantara sesamanya untuk berpegang pada kebenaran yang sumuannya adalah kebaikan, dan saling berpesan diantarannya pula untuk berpegang teguh pada kesabaran di dalam mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangannya.”

 

As-Sunnah Memerintahkan untuk Saling Menasihati

 

Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Dary RA berkata, Nabi SAW bersabda, “Agama itu nasihat.’ Kami Bertanya, ‘Untuk siapa?’ Beliau bersabda, ‘Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin dan kaum muslimin.” (HR. Muslim)

 

An-Nashiihat artinya nasihat, yakni ucapan untuk perbaikan.

 

Nasihat kepada Allah terimplementasi dalam bentuk iman kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya, tidak mengingkari sifat-sifat-Nya, meyakini bahwa kesempurnaan hanya milik-Nya, mensucikan-Nya ikhlas dalam beribadah kepada-Nya, taat, tidak berbuat maksiat, mencintai dan benci karena-Nya, loyal kepada orang yang taat kepada-Nya, dan tidak loyal kepada orang yang bermaksiat kepada-Nya.

 

Nasihat kepada Al-Qur’an terimplementasi dalam bentuk iman kepada kitab-kitab samawi yang diturunkan Allah dan meyakini bahwa Al-Qur’an merupakan penutup dari semua kitab-kitab tersebut. Secara lebih rinci nasihat kepada Al-Qur’an terimplementasi dalam bentuk: membaca dan menghafal Al-Qur’an, membacanya dengan tartil dan suara yang bagus, mentadabburi nilai-nilai yang terkandung dalam setiap ayat-ayat-Nya, mengajarkannya kepada generaris muslim, memahami dan mengamalkannya.

 

Nasihat kepada Rasulullah SAW terimplementasi dalam bentuk membenarkan risalahnya, membenarkan semua yang disampaikannya, mencintai dan menaatinya. Dan barangsiapa yang menaati Rasulullah SAW maka secara otomatis ia menaati Allah.

 

Nasihat kepada para pemimpin berarti menasihati para penguasa, wakil-wakilnya atau para ulama. Hal ini terimplementasi dengan menyukai kebaikan, kebenaran dan keadilannya, sehingga melalui kepemimpinannya kemaslahatan dapat terpenuhi. Nasihat yang lain jugadilakukan dengan cara membantu mereka untuk senantiasa berada dalam rel kebenaran, menaati mereka dalam kebenaran, dan mengingatkan mereka dengan cara yang baik. Adapun nasihat kepada para ulama dilakukan dengan jalan meng-counter berbagai pendapat sesat yang berkenaan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, juga menjelaskan berbagai hadits, apakah hadits tersebut shahih atau dhaif.

 

Nasihat kepada kaum muslimin dilakukan dengan cara menuntun mereka kepada berbagai hal yang membawa kebaikan dunia dan akhiratnya.

 

Nasihat yang Paling Baik

 

Nasihat yang paling baik adalah nasihat yang diberikan ketika seseorang dimintai nasihat. Rasulullah SAW bersabda, “Jika seseorang dimintai nasihat, maka nasihatilah ia.” Dan termasuk ketulusan yang paling baik adalah yang dilakukan saat orang tersebut tidak ada di hadapannya. Ini dilakukan dengan cara menolong dan membelanya. Dan inilah bukti ketulusan yang sungguh-sungguh. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya termasuk hak seorang muslim terhadap muslim yang lain adalah tetap tulus meskipun tak ada di hadapannya.”

 

Para Ulama Berbicara Seputar Nasihat

 

Beberapa sahabat RA pernah berkata, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, orang yang paling dicintai Allah, adalah orang yang menyebabkan Allah mencintai hamba-Nya, menyebabkan hamba cinta kepada Allah dan melakukan nasihat.”

 

Hasan Al-Bashry berkata, “Sesungguhnya engkau belum terhitung menasihati saudaramu, sebelum engkau menyuruhnya untuk melakukan sesuatu yang ia tidak mampu melakukannya.”

 

Abu Bakar Al-Mazni berkata, “Yang menjadikan Abu Bakar As-Siddiq lebih derajatnya daripada sahabat-sahabat yang lain bukanlah puasa ataupun shalat. Akan tetapi karena sesuatu yang ada di hatinya. Yang ada di hatinya adalah kecintaan kepada Allah dan nasihat terhadap makhluk-Nya.”

 

Fudhail bin Iyadh berkata, “Kemuliaan yang diperoleh oleh generasi kami, bukanlah karena shalat dan puasa. Namun karena murah hati, lapang dada, dan suka member nasihat.”

 

Menutupi Aib Saat Memberikan Nasihat

 

Fudhail bin Iyadh berkata, “Seorang mukmin adalah orang yang menutupi aib dan menasihati. Sedangkan orang fasik adalah orang yang merusak dan mencela.”

 

Diantara bagian dari menutupi aib saudaranya adalah dengan memberikan nasihat langsung kepada yang dituju dan dilakukannya dengan cara berdua. Para ulama berkata, “Barangsiapa yang menasihati seseorang dan hanya ada mereka berdua, maka itulah nasihat yang sebenarnya. Barangsiapa yang menasihati saudaranya di depan banyak orang, maka yang demikian itu mencela dan merendahkan orang yang dinasihati.”

 

Menggunakan Kata-Kata yang Baik Saat Memberikan Nasihat

 

Menggunakan kata-kata yang baik merupakan perinsip Al-Qur’an. Allah berfirman:

 

“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83)

 

Mengenai ayat ini Ibnu Katsir berkata, “Artinya ucapkanlah kepada mereka ucapan yang baik dan sikap yang lembut. Dan termasuk dalam hal ini adalah amar ma’ruf nahyi mungkar.”

 

Hasan Al-Bashry berkata mengenai firman-Nya ini, “Termasuk ucapan yang adalah menyuruh berbuat baik dan mencegah perbuatan mungkar, bersabar, suka member maaf, serta berkata kepada manusia dengan ucapan yang baik, berakhlak baik yang diridhai Allah.”

 

Menggunakan perkataan yang baik bukan hanya prinsip Al-Qur’an saja tetapi ia pun prinsip Sunnah. Rasulullah SAW berkata, “Bukanlah seorang mukmin, orang yang suka menuduh, suka melaknat, suka berbuat keji, dan suka berkata kasar.” (HR. Tirmidzi)

 

Cara yang Baik Saat Memberikan Nasihat

 

Allah berfirman:

 

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari Jalan-Nya dan Dial ah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. “ (QS. An-Nahl: 125)

 

Berdasarkan ayat ini kita bisa mengetahui bahwasannya hal yang harus dipahami oleh seseorang pertama kali yang hendak memberikan nasihat sebelum ia memberikan nasihat adalah sesungguhnya ia menyeru seseorang ke jalan Allah, yakni jalan yang telah digariskan-Nya, sehingga ia mampu melakukan ibadah kepada-Nya dan bermuamalah sesame manusia dengan baik dan benar.

 

Setelah si pemberi nasihat memahami hal ini, maka prinsip selanjutnya yang harus dipahami adalah mengenai cara pemberian nasihat, yakni dengan cara hikmah dan pelajaran yang baik.

 

Pengertian cara hikmah, menurut Dr. Yusuf Qardhawi, adalah mengajak bicara kepada akal manusia dengan dalil-dalil ilmiah yang memuaskan, dan dengan bukti-bukti logika yang cemerlang. Semua itu dimaksudkan untuk mengikis keragu-raguan dengan argumentasi dan penjelasan-penjelasan, menolak hal-hal yang syubhat dan mengalihkan kepada hal-hal yang jelas, tegas, dan mudah dipahami, dan menghindari permasalahan dzanni menuju permasalahan yang qath’I, permasalahan parsial menuju universal, dan permasalahan furu’ menuju ushul.

 

Termasuk cara hikmah, menurut Al-Qardhawi, adalah berbicara terhadap orang lain (yang sedang dinasihatinya) dengan sesuatu yang mudah dipahaminya dan diterima dengan akalnya. Termasuk cara hikmah lainnya adalah berbicara dan berdialog dengan menggunakan bahsanya sehingga mudah berkomunikasi dan memahami isi pembicaraan. Termasuk hikmah pula adalah bersikap ramah dan lemah lembut dalam menyampaikan perintah dan larangan. Mengajak manusia secara bertahap (tadarruj) adalah bagian dari cara hikmah.

 

Adapun yang dimaksud cara mau’izah hasanah (pelajaran yang baik) adalah mengajak berbicara kepada hati dan perasaan agar menyadari dan tergerak untuk bertindak. Maka tidak termasuk cara ini apabila menggunakan cara-cara tertentu untuk menakut-nakuti masyarakat awam. Juga tidak pula termasuk cara ini apabila berlebihan memberikan harapan dan dambaan rahmat Allah dan ampunan-Nya. Juga tidak termasuk cara ini dengan cara membangkitkan emosi masyarakat dan membakar perasaan mereka dalam menghadapi masalah-masalah parsial.

 

Adapun makna berdialog dengan cara yang baik (al-jidal bil lati hiya ahsan) adalah berdialog dengan kata-kata yang halus, kalimat yang indah dan efektif, dan ungkapan santun.

 

Memilih Waktu yang Tepat Saat Memberikan Nasihat

 

“Dari Ibnu Mas’ud RA, bahwa Nabi SAW selalu memilih waktu yang tepat bagi kami untuk memberikan nasihat, karena beliau takut kami akan merasa bosan.” (HR. Bukhari)

 

Memilih waktu yang tepat adalah sesuatu yang harus diperhatikan ketika seseorang hendak memberikan nasihat.

 

Memperhatikan Prinsip Muwazanah (Keseimbangan dan Keadilan) Saat Memberikan Nasihat

 

Prinsip muwazanah adalah prinsip Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Salafus Shalih itu sendiri.

 

Prinsip muwazanah dalam Al-Qur’an.

“Dan hendaklah kalian memaafkan, itu lebih dekat kepada taqwa. Dan janganlah kalian meupakan kebaikan di antara kalian. “ (QS. Al-Baqarah: 237)

 

Mengenai ayat ini, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata, “Maksudnya adalah janganlah kalian meninggalkan kebaikan—yakni perbuatan baik di antara kalian—dengan memberikan maaf.”

 

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil.” (QS. Al-Maidah: 8)

 

Ibnu Katsri berkata, “Maksudnya yaitu jangan sekali-kali kebencian kalian kepada sutu kaum itu membuat kalian mengabaikan keadilan terhadap mereka. Bahkan hendaknya senantiasa bersikap adil kepada setiap orang, baik itu kawan maupun lawan.”

 

“Dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia, hendaknya kalian menetapkan hukum dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)

 

“Dan tegakanlah timbangan dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS. Ar-Rahman: 9)

 

Imam Abu Abdillah Al-Qurthubi berkata, “Menurut Hasan Al-Bashri, Qatadah, dan Adh-Dhahhak, mizan adalah lisan, dimana dengan lisan itulah seseorang menilai orang lain. Dan ini adalah kabar tentang perintah berbuat adil.”

 

Prinsip muwazanah dalam Sunnah.

Rasulullah SAW bersabda, “Puasalah dan berbuka. Bangun malamlah dan tidur. Karena sesungguhnya badanmu mempunyai hak atas dirimu, matamu punya hak atas dirimu, istrimu punya hak atas dirimu, dan tamumu punya hak atas dirimu.” (HR. Bukhari)

 

Hadits ini tentang muwazanah dalam beribadah, yakni seimbang kebutuhan spiritual dan jasmani duniawi.

 

Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut kepada Allah dan paling bertaqwa di antara kalian. Tetapi aku ini puasa dan berbuka, aku shalat malam dan tidur, dan aku pun menikah dengan perempuan. Maka barangsiapa yang membenci sunnahku, berarti dia bukan golonganku.” (HR. Bukhari)

Ini tentang muwazanah dalam ibadah, yakni seimbang antara kebutuhan dunia dan akhirat.

 

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah suka jika rukhsah-Nya dikerjakan, sebagaimana dia benci jika maksiat kepada-Nya dilakukan.” (HR. Ahmad)

 

Ini adalah hadits muwazanah dalam hal reward dan punishment.

 

Sikap muwazanah para sahabat dan tabi’in.

1.       Dalam Perang Shiffin dan perseteruannya dengan Muawiyah Ibnu Abbas berada di pihak Ali, akan tetapi ini tidak menyurutkan sikap objektivitas dan keadilan Ibnu Abbas ketika ia ditanya tentang Muawiyah.

 

Ibnu Abi Mulaikah menceritakan, bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Abbas, “Apa pendapatmu tentang Amirul Mukminin Muawiyah, sesungguhnya ia tidak shalat witir kecuali satu rakaat.” Ibnu Abbas menjawab, “Dia benar. Sesungguhnya dia seorang yang faqih.”

 

2.       Ali bin Abi Thalib dan Thalhah bin Ubaidillah adalah dua orang sahabat yang mulia. Akan tetapi dalam Perang Jamal keduanya berseteru. Thalhah bersama dengan Aisyah melawan Ali dan pasukannya dalam perang tersebut. Selesai perang, Ali mendengar salah seorang prajuritnya ada yang mencela Thalhah, maka Ali pun memarahinya dan berkata:

 

“Sungguh engkau tidak menyaksikan Perang Uhud! Waktu itu aku benar-benar melihatnya menggunakan tubuhnya utnuk membentengi Rasulullah SAW padahal pedang-pedang mengarah kepadanya. Sungguh dia bagai perisai dengan tubuhnya bagi Rasulullah SAW.”

 

3.       Abu Bakr Muhammad bin Sirin termasuk salah seorang ulama tabi’in yang cukup vocal mengkritisi Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, panglima perang Khalifah Abdul Malik bin Marwan Al-Umawi sekaligus gubenurnya di Hijaz dan Iraq. Karena kebengisan dan kekejamannya, tak sedikit orang yang dibunuh—tidak kurang dari 124 ribu—oleh Al-Hajjaj meski karena suatu kesalahan yang sangat ringan. Dikarenakan berbagai kejahatannya, Umar bin Abdul Aziz berkata, “Kalau semua umat manusia saling menunjukkan keburukannya, dimana setiap umat datang dengan tokoh penjahatnya, dan kita datang pada mereka dengan membawa Al-Hajjaj, sungguh kita akan mengalahkan mereka.”

 

Saat ketika ada seorang lelaki yang mencela Al-Hajjaj setelah Al-Hajjaj meninggal, dengan sikap muwazanah yang dimilikinya maka Ibnu Sirrin pun menegurnya, “Jangan begitu hai lelaki. Sesungguhnya kalau engkau sudah berada di akhirat, dosa terkecil yang pernah engkau lakukan itu adalah termsauk dosa terbesar yang pernah dilakukan Al-Hajjaj. Ketahuilah, sesungguhnya Allah adalah hakim yang paling adil. Jika Dia mengambil kebaikan Al-Hajjaj untuk orang yang dzhaliminya, maka Dia pun akan mengambil kebaikan orang lain yang telah menzhalimi Al-Hajjaj. Jadi, janganlah sekali-kali engkau seibukkan dirimu dengan mencela seseorang.”

 

Beberapa kisah di atas merupakan mutiara berharga tentang sikap muwazanah yang dimiliki oleh para sahabat dan tabi’in. Sikapnya merupakan cerminan dari keagungan akhlak yang patut dicontoh bagi umat generasi sekarang ini. Mereka mendudukkan suatu perkara sesuai dengan kadarnya. Mereka memcintai karena Allah, dan membenci pun karena Allah.

 

Perbedaan Ijtihad Tidak Melahirkan Sikap Pencelaan

 

Mengenai hal ini Imam Adz-Dzahabi berkata, “Dari dulu, selalu ada perbedaan pendapat di antara para imam, dimana sebagian mereka membantah sebagian yang lain. Dan, kamu bukanlah termasuk orang yang suka mencela ulama dengan hawa nafsu dan kebodohan.”

 

Begitu pun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Tidak disangsikan lagi, bahwa kesalahan dalam masalah detil keilmuan yang dilakukan umat itu diampuni Allah, sekalipun itu terjadi dalam masalah-masalah ilmiah. Jika tidak demikian, niscaya akan banyak tokoh umat ini yang terjerumus dalam kebinasaan.”

 

Beginilah para ulama salaf menyikapi perbedaan, meski ada nuansa ilmiah (baca: diskusi) akan tetapi mereka terhindar dari sikap mencela para ulama atau mujtahid lainnya karena hawa nafsu dan kebodohan.

 

Tetap Mempertahankan Sikap Muwazanah Meski Berbeda Golongan, Madzhab, dan Harakah Islamiyah

 

Seorang ulama salaf yang bergelar amirul mukminin fil hadits dan termasuk tabi’ut tabi’in, Sufyan Ats-Tsauri, berkata, “Makhluk yang paling mulia itu ada lima macam, yaitu: Seorang alim yang zuhud, seorang faqih yang shufi, orang kaya yang tawadhu’, orang faqir yang bersyukur, dan orang yang terkemuka yang mengikuti Sunnah.” (Lihat Siyar A’lam An-Nubala’)

 

Dalam hal ini, Sufyan Ats-Tsauri tidak mencela Shufi dan Tasawuf-nya—meski dalam Tasawuf ada praktek-praktek yang mennyimpang dari ajaran Islam. Akan tetapi apa yang bisa kita pelajari dalam hal ini adalah sikap para ulama ketika menghadapi perbedaan golongan. Mendudukkan persoalan sesuai dengan proporsinya. Mereka mengatakan benar jika memang itu benar dan mengatakan salah jika memang hal itu salah tanpa harus mencela pribadinya.

 

Ketika membahas masalah siapa yang lebih utama antara orang shufi dan orang faqir, maka Ibnu Taimiyah berkata, “Dan yang pasti, bahwasannya yang lebih utama (afdhal) di antara keduanya adalah yang paling bertaqwa. Sekiranya orang shufi itu lebih bertaqwa kepada Allah, maka dialah yang lebih baik, dimana dia lebih banyak melakukan amalan yang disukai Allah dan lebih meninggalkan apa yang tidak disuka-Nya, maka dia lebih baik daripada orang faqir. Dan apabila orang faqir tersebut lebih banyak amalannya yang disukai Allah dan lebih meninggalkan apa yang tidak disukai-Nya, maka dia lebih baik daripada orang shufi. Tetapi jika keduanya setingkat dalam amalan yang disukai Allah dan dalam meninggalkan apa yang tidak disukai-Nya, maka keduanya pun sederajat.” (Lihat Majmu’atul Fatawa)

 

Sikap muwazanah tercermin dalam menyebutkan kelebihan dan kekurangan seseorang secara seimbang, objektif, adil, dan proporsional terhadap seseorang yang kita nasihati. Lihatlah bagaimana Imam Adz-Dzahabi memiliki sikap ini ketika ia mensifati seorang perawi yang bernama Aban bin Taghlib dari golongan Syi’ah. Imam Adz-Dzahabi berkata, “Aban bin Taghlib Al-Kufi adalah seorang Syi’ah tulen, tetapi dia adalah seorang yang jujur. Maka, kita ambli kejujurannya, dan biarlah dia yang menanggung bid’ahnya.”

 

Adz-Dzahabi juga berkata tentang seorang Syi’ah lainnya, Shadaqah bin Manshur bin Dubais Al-Asadi An-Nasyiri, katanya, “Dan Shadaqah adalah seorang Syi’ah. Dia memiliki kebaikan-kebaikan, kemuliaan-kemuliaan, kesabaran, dan dermawan. Dia mArab setelah ayahnya (meninggal) selama 22 tahun ayahnya.”

 

Imam Abu Bakr Syamsuddin Muhammad bin Abdirrahman As-Sakhawi berkata tentang ahli fiqih bermadzhab Hambali yang juga Shufi, “Salman bin Abdil Hamid bin Muhammad bin Mubarak Al-Baghdadi kemudian Ad-Dimasyqi Al-Hambali, tinggal di Qabun. Dia adalah seorang ahli ibadah yang baik, juga seorang shufi di Khatuniyah. Dia menguasai banyak permasalahan fiqih dalam Madzhab Hambali, dan dia memiliki sejumlah kelebihan. Meninggal pada tahun lima (maksudnya tahun 805 H-pen).” (Lihat Adh-Dhaw’u Al-Lami’)

 

Begitulah sikap muwazanah tercermin dalam diri para sahabat dan para salafus shalih, tak terkecuali Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani. Ibnu Hajar berkomentar singkat tentang bermadzhab Syi’ah, “Salim bin Abdil Wahid Al-Muradi Al-An’umi Abdul Ala’, orang Kufi, maqbul (diterima haditsnya). Dia adalah seorang Syi’ah.”

 

Dalam hal ini tidak semua orang Syi’ah tertolak sebagai perawi. Dan inilah bukti sikap muwazanah para ahli hadits.

Khatimah

 

Inilah manhaj atau pedoman yang harus diperhatikan saat kita memberikan nasihat supaya kita terhindar dari sikap mencela satu sama lain. Wallahu’alam