Oleh: D. Hamdani

Definisi

Menurut bahasa, kata bai’at dalam Kamus Al-Munawwir adalah bentuk masdar dari ba’a-yabi’u-bai’an yang artinya shiddu isytara (menjual)–dan terkadang diartikan sebagai jual beli. Sedangkan definisi ba’i–menurut para ulama adalah memberikan barang dan mengambil uang. Baaya’a-yubaayi’u-mubaya’atan artinya pertukaran harta dengan harta (barter).

Dikatakan baaya’a fulanan mubaaya’atan yakni ia telah membuat ikatan jual beli bersamanya serta memegang tangannya sebagai tanda sempurnanya ikatan dan keridhaan (Al-Basyir, 2005: 43). Kata bai’at juga berarti perjanjian yang saling bersepakat (Lisanul Arab, 1/299; An-Nihayah, 1:174). Dikatakan baaya’ahu ‘alaihi mubaaya’atan yakni saling mengadakan perjanjian.

Selain definisi yang telah dikemukakan, terkadang kata ‘mubaya’ah’ diartikan sebagai ‘mu’ahadah’, karena di dalamnya terkandung pengertian pertukaran hak-hak dan kewajiban. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya diri dan harta kaum mukminin, sesungguhnya bagi mereka imbalan surga.” Ahdu adalah segala sesuatu yang dibangun di atasnya ikatan janji kepada Allah SWT, dan segala perjanjian antara sesama hamba adalah perjanjian surga (Fathul Baari, 1/64).

Sedangkan definisi bai’at menurut istilah adalah akad yang tegak di atas nilai-nilai keridhaan, yang dimiliki seorang pemimpin dalam mendengar dan menaati kebenaran, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, dalam kegiatan giat maupun malas (Al-Baasyir, 2005: 44).

Dalam hal ini, telah banyak para ulama yang mendefinisikan tentang bai’at. Menurut Ibnu Atsir, bai’at adalah suatu ungkapan (gambaran) dari saling mengingat atau saling berjanji (perjanjian dari kedua belah pihak), seolah-olah masing-masing dari keduanya telah menjual apa yang ada pada dirinya kepada saudaranya dan ia telah memberikan ketulusan hatinya, ketaatan dan urusan pribadinya.

Sedangkan menurut Ibnu Khaldun, bai’at diartikan sebagai janji untuk ta’at, seolah-olah seorang yang berbai’at tidak akan menentang sedikitpun terhadap amirnya baik urusan pribadinya dan umat Islam seluruhnya, ia tidak akan menentang apa yang diperintahkannya, serta akan selalu menaatinya dalam semua perkara yang dibebankan, baik dalam kegiatan giat maupun malas (Yakan, 2005: 172).

Dalam Kitab Al-Jam’i Al-Ushul dikatakan bahwasannya bai’at adalah perjanjian untuk menolong, akan tetapi yang dimaksud di sini adalah perjanjian untuk patuh dan taat secara mutlak, kecuali dalam maksiat kepada Allah SWT.

Tidak Ada Bai’at kepada Imam dalam Bermaksiat kepada Allah SWT

Berdasarkan definisi yang telah dijelaskan di atas bahwasannya berbai’at adalah pernyataan janji setia yang dinyatakan oleh seseorang di depan ‘Imam’ sebagai suatu pernyataan bahwa ia akan senantiasa patuh dan taat terhadap segala aturan dan ketentuan Imam selama tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Allah SWT. Sehingga dalam hal ini bisa dikatakan bahwa ketaatan kepada Imam bersifat tidak mutlak. Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman. Taatilah Allah (atii’ullaaha) dan taatilah Rasul (Muhammad) (wa atii’urrasuula), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu (wa ulil amri minkum). Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa: 59)

Ayat ini turun berkenaan dengan ‘Abdullah bin Hudzafah bin Qais bin ‘Adi, ketika diutus oleh Rasulullah SAW di dalam satu pasukan khusus. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali, ia berkata: “Rasulullah SAW mengutus satu pasukan khusus dan mengangkat salah seorang Anshar menjadi komandan mereka. Tatkala mereka telah keluar, maka ia marah kepada mereka dalam suatu masalah, lalu ia berkata, ‘Bukankah Rasulullah SAW memerintahkan kalian untuk mentaatiku?’ Mereka menjawab, ‘Betul.’ Dia berkata lagi, ‘Kumpulkanlah kayu bakar oleh kalian.’ Kemudian ia meminta api, lalu ia membakarnya, dan ia berkata, ‘Aku berkeinginan keras agar kalian masuk ke dalamnya.’ Maka seorang pemuda di antara mereka berkata, ‘Sebaiknya kalian lari menuju Rasulullah SAW dari api ini. Maka jangan terburu-buru (mengambil keputusan) sampai kalian bertemu dengan Rasulullah SAW. Jika beliau perintahkan kalian untuk masuk ke dalamnya, maka masuklah.’ Lalu mereka kembali kepada Rasulullah dan mengabarkan tentang hal itu. Maka Rasulullah SAW pun bersabda kepada mereka, ‘Seandainya kalian masuk ke dalam api itu, niscaya kalian tidak akan ke luar lagi selama-lamanya. Ketaatan itu hanya pada yang ma’ruf.” (HR. Bukhari-Muslim dari hadits Al-A’masy)

Makna Ayat di Atas

‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan, dari Ibnu ‘Abbas bahwa ‘wa uulil amri minkum’ (dan Ulil Amri di antara kamu) maksudnya adalah ahli fiqh dan ahli agama. Demikian pula Mujahid, ‘Atha’, Al-Hasan Bashri dan Abul ‘Aliyah berkata, “Wa uulil amri minkum” (dan Ulil Amri di antara kamu) maksudnya adalah ulama. Yang jelas Ulil Amri itu umum mencakup setiap pemegang urusan, baik umara maupun ulama.

Seandainya kita tadabburi ayat di atas, Allah SWT memerintahkan kita untuk senantiasa taat kepada Allah SWT dan juga kepada Rasul-Nya. Ketaatan kepada keduanya bersifat mutlak, hal ini dapat dilihat dalam pemakaian kata atii’u yang bermakna wajib untuk taat kepada Allah SWT dan juga Rasul-Nya. Sedangkan ketaatan kepada Ulil Amri/Imam bersifat tidak mutlak, oleh karenanya, di dalam firman-Nya–untuk ketaatan kepada Ulil Amri–Allah SWT tidak menggunakan kata atii’u ulil amri, melainkan wa ulil amri minkum, artinya ketaatan kepadanya bersifat tidak mutlak. Ketidak-mutlakan ketaatan kepada Ulil Amri dijelaskan oleh beberapa hadits berikut.

Batasan Ketaatan kepada Imam

Dari Ibnu Umar RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Mengindahkan dan mematuhi perintah itu wajib, selama tidak diperintah mengerjakan maksiat (dosa). Tapi jika kamu diperintah berbuat maksiat (dosa), jangan diindahkan dan jangan dipatuhi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Juga dalam hadits lain, dari Ali RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada taat dalam maksiat kepada Khaliq (pencipta, Allah SWT); sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam (perintah) kebaikan.” (HR. An-Nasa’i)

Setelah kita tadabburi kedua hadits di atas, sudah sangat jelas bahwasannya ketaatan kepada Imam bukanlah sesuatu yang mutlak, ketaatan kepadanya hanya dalam perkara kebaikan, dan tidak ada ketaatan dalam durhaka kepada pembuat syari’at.

Yang Termasuk Kedurhakaan

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk untuk durhaka kepada Allah SWT (la tha’ata limakhluqin fi ma’shiyatil Khaliq)” Ini adalah sebuah komitmen yang sudah sepantasnya dipegang oleh setiap muslim. Akan tetapi dalam hal ini ada satu pertanyaan yang terbersit dalam benak kita: hal apakah yang termasuk kedurhakaan kepada Khaliq dalam rangka ketaatan kepada Imam? Jawabannya, adapun maksud dari kaidah di atas adalah: tidak ada ketaatan kepada Imam, ketika ia menyuruh berbuat munkar kepada Allah SWT; tidak ada ketaatan kepada Imam, ketika ia menganjurkan perbuatan dosa; tidak ada ketaatan kepada Imam, ketika ia mencegah seseorang untuk berbuat kebaikan; begitu pula tidak ada ketaatan kepada Imam, ketika ia membuat hukum baru–untuk kepentingan hawa nafsunya–yang tidak ada perintahnya dari Sang Pembuat Syari’at (dalam urusan ibadah), karena kaidah fiqh menyebutkan, “hukum asli ibadah adalah terlarang (haram), hingga ada dalil yang memerintahkan.”
Termasuk hukum baru yang tidak diperintahkan adalah mewajibkan semua muslim untuk berbai’at kepada Imam, sehingga ketika ia tidak berbai’at kepadanya maka ia adalah kafir. Termasuk hukum baru (baca: bid’ah) adalah berbai’at kepada Imam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Imam dan wajib disaksikan oleh Imam sebagai sahnya status kemuslimannya, jika tidak maka ia akan senantiasa berada dalam “kejahiliyahan”. Termasuk hukum baru (kedurhakaan) adalah mewajibkan seluruh muslim untuk hijar kepada golongan/jama’ahnya, dan ketika tidak hijrah maka ia berada dalam kekafiran. Maka dalam konteks semua ini, seorang muslim tidak wajib taat kepada seorang Imam, karena seiring dengan itu ia telah berdosa kepada Allah SWT.

Ketaatan Harus Dilandasi Kepahaman (Al-Fahmu)

“Al-‘Ilmu qobla ‘amal (ilmu harus senantiasa mendahului amal)”, begitu kata Imam Bukhari, dan kunci membuka ilmu adalah membaca (iqra’). Perintah membaca adalah wahyu pertama yang diberikan kepada Rasul tercinta. Ilmu adalah cahaya, dan dengannya kunci-kunci kepahaman pun terbuka.

Berkaitan dengan ketaatan kepada seorang Imam, maka sesungguhnya ia pun harus senantiasa dilandasi dengan al-fahmu (kepahaman). Ustadz Sa’id Hawwa dalam kitabnya Fi Afaqit Ta’alim mengatakan, “Ketaatan yang sempurna tidak dapat terwujud tanpa ilmu dan tsiqah.” Di sini ats-tsiqah (kepercayaan) memegang pondasi kedua dalam unsur ketaatan kepada seorang Imam. Akan tetapi, ats-tsiqah yang tidak dilandasi al-fahmu maka akan terlahir taklid buta kepada seorang Imam tersebut. Mereka yang terjebak dalam hal ini, maka akan terjerumus ke dalam jurang kebinasaan (baca: kedurhakaan kepada Sang Khaliq). Mereka akan melegitimasi akan segala hal, baik berupa ucapan atau tindakan yang keluar dari seorang Imam meski seorang Imam tersebut dalam kondisi salah sekalipun. Maka muaranya adalah rahbaniyah (kerahiban), artinya me-rahib-kan seorang Imam tersebut. Alangkah Indahnya seandainya ketaatan itu diberikan sesuai dengan urutannya: kepada Allah SWT, Rasul SAW, dan kaum mukminin.
Tidak ada ats-tsiqah yang tidak disertai dengan mahabbah (rasa cinta), karena dengan mahabbah itulah yang melahirkan al-itsar dan juga ats-tsiqah. Tetapi keduanya terlahir dari kepahaman yang sempurna (al-fahmu) akan historis, psikologis, dan fikrah seorang pemimpin tersebut. Al-fahmu dan ats-tsiqah yang melahirkan ath-tha’ah, maka ia akan menumbuhkan struktur jama’ah yang kuat. Ustadz Sa’id Hawwa mengatakan dalam komentarnya terhadap Rukun Bai’at Keenam (Ath-Tha’ah) dalam Jama’ah Ikhwan:

“Tanpa ketaatan, maka tidak ada jama’ah, tidak ada gerakan, tidak ada sistem, tidak ada keridhaan Allah SWT, tidak ada jihad, dan tidak ada tujuan yang dapat dicapai.” (Hawwa, 2005: 172)

Tetapi dalam kondisi ketaatan kepada pemimpin tersebut, maka seorang jundi harus senantiasa memahami (al-fahmu) kondisi jama’ah dan pemimpinnya. Ustadz Sa’id Hawwa meneruskan:

“Sesuatu yang harus jelas adalah bahwa rukun ini tergantung kepada kondisi jama’ah dan pemimpinnya. Pemimpin tersebut harus memenuhi syarat-syarat syar’i dan tanzhimi, selain dapat melahirkan keputusan yang berlandaskan sura dan hukum-hukum syari’at, juga dengan kaidah-kaidah tanzhim yang dirujuk oleh jama’ah.” (Hawwa, 2005: 173)

Maka dalam hal ini, Ustadz Sa’id Hawwa begitu menekankan upaya al-fahmu sebagai pondasi dari ketaatan kepada pemimpin. Jama’ah Ikhwan senantiasa menempatkan al-fahmu dalam berbagai hal, termasuk dalam memahami jama’ah dan pemimpinnya. Mereka mengerti bahwa:

“Tiada Islam tanpa jama’ah. Jama’ah identik dengan prajurit, pemimpin, dan tugas-tugas. Prajurit yang berkomitmen dengan arahan-arahan itu mempunyai sifat-sifat yang disebut dengan rukun bai’at yang antara lain: mendengar dan taat. Hal itu tidak meungkin terwujud dengan paksaan melainkan dengan iman, keyakinan, dan tarbiyah yang baik. Agar para anggota berjuang untuk memperjuangkan fikrah, menempa diri dan mencelup diri dengan akhlak hingga menjelma menjadi sosok yang berakhlak dan berpengaruh.” (Aziz, 2002: 58)

Selain Ustadz Sa’id Hawwa, KH. Rahmat Abdullah pun begitu memahami bagaimana al-fahmu itu memegang peranan yang sangat penting dalam ketaatan kepada seorang pemimpin. Ia mengatakan dalam refleksinya terhada Arkanul Bai’at Jama’ah Ikhwan:

“Sungguh beruntung umat, komunitas, atau bangsa yang mampu mengatakan ‘tidak’ pada saat mereka harus mengatakan tidak, betapapun cinta mereka yang besar kepada sang pemimpin.

Betapa selamat umat, komunitas, atau bangsa yang mau berlapang hati untuk mengurbankan kemauan, pandangan dan persepsi pribadinya saat mereka bertentangan dengan sang pemimpin karena ia berbasiskan landasan syar’i dan sisi yang kokoh betapapun ketidak-sukaan mereka kepadanya dalam beberapa hal. Lebih beruntung mereka yang dapat mengatakan ‘tidak’ tentang sesuatu yang tak didukung sharihun nash (dalil yang terang), lalu tunduk pada keputusan syura, bahkan sekedar perintah seorang pemimpin.” (Abdullah, 2006: 56-57)

Dalam hal ini, sepertinya keduanya betapa memahami makna peringatan Nabi SAW, bahwasannya ketaatan kepada makhluk diwajibkan sebatas kebaikan, bukan dalam bermaksiat kepada Allah SWT (Al-Asqalani, 2005: 110). Dan Sebaik-baik ketaatan (ath-tha’ah) adalah yang terlahir dari kepahaman (al-fahmu).

Wallahu-a’lam.


Sumber Isnpirasi:

  1. Al-Qur’an dan Terjemahan. Depag RI, 1993. BAndung: CV. Gema Risalah Press.
  2. Ahmad Warson Munawwir. 2002. Kamus Al-Munawwir: Arab Indonesia. Surabaya: Pustaka Progressif.
  3. Fathi Yakan. 2005. Komitmen Muslim Sejati. Solo: Era Intermedia.
  4. Ibnu Hajar Al-Asqalani. 2005. Fathul Baari (Juz 1). Jakarta: Pustaka Azzam.
  5. Ibnu Katsir. 2008. Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 2). Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
  6. Isham Ahmad Al-Basyir. 2005. Inilah Jalanku: Pilar-Pilar Berjama’ah Bagi Aktivis Dakwah. Jakarta: Quantum Media Publishing.
  7. Jum’ah Amin Abdul Aziz. 2002. Tsawabit dalam Manhaj Gerakan Ikhwan. Bandung: Syaamil Cipta Media.
  8. Rahmat Abdullah. 2006. Untukmu Kader Dakwah. Jakarta: Pustaka Da’watuna.
  9. Sa’id Hawwa. 2005. Membina Angkatan Mujahid. Solo: Era Intermedia.