Oleh: D. Hamdani

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa berdusta atas (nama)-ku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya dari neraka.” [1]

(HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim, Thabrani, Abu Hanifah, Ath-Thayalisi, Ad-Darimi)

Tiga Kategori Hadits

Di dalam Kitab Al-Khulaashah Ilmil Hadiits telah dijelaskan bahwasannya hadits itu terdiri dari tiga macam:
1. Yang wajib dibenarkan (diterima, maqbul, seperti hadits shahih dan hasan).

2. Yang wajib ditolak (didustakan, tidak boleh diterima, mardud, seperti hadits maudhu) yaitu berita (khabar) yang diadakan atau dibuat-buat oleh seseorang yang mengatas-namakan Rasulullah SAW.

3. Yang wajib di -tawaqquf-kan (tidak boleh diamalkan) terlebih dahulu hingga jelas penelitian tentang kebenarannya karena hal tersebut memiliki dua kemungkinan: pertama, boleh jadi hadits tersebut ucapan Nabi SAW; kedua, atau boleh jadi bahwa hadits tersebut bukan ucapan–atau berasal–dari Nabi SAW karena telah dipalsukan atas nama Nabi SAW.

Kategori Hadits Dhaif

Para ulama baik dari golongan muhadditsin, para fuqaha, dan lain-lain mengatakan, “Hadits dhaif dapat dijadikan hujjah untuk meningkatkan amal baik, amal yang disunnahkan, atau sebagai peringatan mengerjakan amalan berdasarkan hadtis dhaif, selama ke-dhaif-annya tidak sampai ke derajat maudhu (hadits palsu). Akan tetapi, dalam masalah hukum halal dan haram, jual beli, nikah dan thalak, serta yang lainnya yang serupa, harus berdasarkan hadits shahih dan hasan.”

Mengacu pada ungkapan di atas, maka para ulama telah membagi hadits dhaif ke dalam dua kategori: pertama, yang mesti ditolak; kedua, yang tidak mesti ditolak. Dengan kata lain, hal yang mengindikasikan bahwa ada hadits dhaif yang sangat lemah, dan ada hadits dhaif yang derajat kelemahannya ringan.

Mengenai hadits dhaif yang derajat kelemahannya ringan, maka ada ulama yang berpendapat bahwasannya hadits tersebut boleh dipakai untuk beberapa hal sebagai berikut:
1. Fadhail ‘amal, yakni hadits-hadits yang menerangkan keutamaan suatu amal.
2. Kisah-kisah, yaitu hadits-hadits yang berisi cerita-cerita.
3. Zuhud, yakni hadits-hadits yang menganjurkan manusia untuk meninggalkan dunia.
4. Targhib, yakni hadits-hadits yang mendorong manusia supaya rajin beramal.
5. Tarhib, yakni hadits-hadits yang bersifat mengancam manusia untuk mengerjakan sesuatu perbuatan.
6. Ganjaran, yakni hadits-hadits yang menjamin ganjaran bagi suatu amal.
7. Siksaan, yakni hadits-hadits yang menerangkan siksaan atas seseorang ketika mengerjakan suatu amal.
8. Peperangan, yaitu hadits-hadits yang berisi cerita-cerita peperangan.
9. Dzikir-dzikir, yakni hadits-hadits yang berisi dzikir-dzikir.

Sifat Rawi Dhaif

Diantara sifat-sifat yang menyebabkan seorang rawi menjadi dhaif (lemah) atau dianggap lemah–sehingga haditsnya pun dhaif–, tercela atau cacat, ketika rawi-rawi tersebut memiliki sifat-sifat:
1. Pemalsuan hadits
2. Tuduhan memalsu
3. Dusta
4. Tuduhan berdusta
5. Dituduh atau suka keliru
6. Dituduh atau suka lalai/lupa
7. Dituduh atau suka salah
8. Dituduh atau suka menyamarkan
9. Kefasikan
10. Tidak kuat hafalan
11. Tidak dikenal orang atau sifatnya
12. Tersembunyi (tidak dijelaskan namanya)
13. Berubah fikiran atau hafalannya
14. Berbuat bid’ah
15. Berlawanan dengan yang lebih kuat daripadanya

Upaya Ihtiyat (Kehati-Hatian)

1. Diantara berbagai macam pendapat para ulama mengenai hukum mengamalkan hadits dhaif, maka sikap yang paling selamat (ihtiyat) adalah kita menolak semua jenis hadits dhaif apabila ia berdiri sendiri atau tidak ada keterangan lain yang menguatkannya. Sikap kehati-hatian ini berdasarkan pada:
– Kejelasan bahwa hadits yang derajatnya sangat lemah ialah bukan–dan tidak dapat dianggap sebagai–sabda Nabi SAW.
– Mengenai hadits yang derajat kelemahannya ringan, ia masih meragukan apakah ia sabda Nabi SAW ataukah bukan, sementara hal yang meragukan itu tidak dapat dijadikan ketentuan.

2. Sikap kehati-hatian dalam menolak hadits dhaif, merupakan sikap yang telah diajarkan Al-Qur’an untuk senantiasa menghidupkan tradisi tabayun di kalangan umat Islam. Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al-Hujurat: 6)

3. Mengingat masih banyak hadits shahi atau hasan yang bisa kita amalkan, lantas mengapa harus mencari hadits dhaif yang jelas-jelas meragukan?

4. Mengacu pada ungkapa Imam Syafi’i RA untuk senantiasa mengambil dalil yang shahih, ia berkata, “Bila hadits itu shahih, maka itulah madzhabku.” Dalam riwayat lain beliau berkata, “BIla perkataanku menyalahi hadits (Rasulullah SAW), maka amalkanlah hadits Rasulullah SAW, dan lemparkanlah perkataanku ke pagar.” Beliau berkata kepada salah seorang muridnya, “Janganlah kamu taklid kepadaku pada semua yang aku katakan, dan telitilah perkataanku itu untuk dirimu, karena itu suatu agama.”

Wallahu-a’alam.

Keterangan:

[1] Hadits Shahih yang diriwayatkan dari jalan 100 orang sahabat Nabi SAW. Lihat Qawai’dut Tahdits.

Pustaka Acuan:

1. A. Qadir Hassan. 2002. Ilmu Mushthalah Hadits. Bandung: CV. Penerbit Diponegoro.
2. Abu Zakariya bin Syaraf An-Nawawi, Asy-Syaikh Muhyiddin. 2000. 200 Fatwa Aktual An-Nawawi (Aqidah, Syari’ah, dan Akhlak). Bandung: Pustaka Setia.
3. An-Nawawi, Imam. 2007. Khasiat Dzikir dan Do’a. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
4. Depag RI. Al-‘Aliyyu: Al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung: CV. Penerbit Diponegoro.
5. Isham Ahmad Al-Basyir. 2005. Inilah Jalanku: Pilar-Pilar Berjama’ah Bagi Aktivis Dakwah. Jakarta: Quantum Media Publishing.
6. Qosim Koho dan A. Yazid. 2006. Himpunan Hadits Lemah dan Palsu. Surabaya: PT. Bina Ilmu.