Oleh: D. Hamdani

Apakah makna ‘Jama’ah’ itu?
Apakah makna ‘Jama’ah Muslimin’ itu?
Apakah makna ‘Jama’ah Muslimin’ bermakna Jama’ah tertentu?
Adakah khalifah saat ini?
Wajibkah berjama’ah?

Dari Auf bin Malik ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Yahudi telah terpecah menjadi 71 firqah, yang satu firqah berada di surga, sedangkan yang 70 firqah berada di dalam neraka, dan Nashara pun telah terpecah menjadi 72 firqah, yang 71 firqah berada di dalam neraka, sedangkan yang satu firqah berada di surga. Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya umatku akan terpecah belah menjadi 73 firqah, yang satu firqah berada di surga, sedangkan yang 72 firqah berada di neraka.” Beliau SAW di tanya, “Siapakah mereka yang satu firqah itu Ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Al-Jama’ah.” (HR. Ibnu Majah)

Definisi Jama’ah

Al-Jama’ah berasal dari kata jama’a-yajma’u-jam’an yang artinya mengumpulkan dan menghimpun. Sedangkan Al-Jama’ah berarti golongan, kumpulan, atau sekawanan.

Makna Jama’ah dalam Beberapa Hadits

1. Jama’ah Sholat

Rasulullah SAW bersabda, “Shalaatul jamaa’ah tafdhulu shalatul fadzi bisab’i wa ‘isyriina darajah.” (Sholat berjama’ah itu lebih baik dari pada sholat sendirian dengan 27 derajat). (HR. Bukhari)

2. Jama’ah Berarti Rombongan

“Cukup dari suatu jama’ah (rombongan) jika mereka lewat untuk memberi salam salah seorang dari mereka, dan cukup dari satu jama’ah untuk menjawab salam salah seorang dari mereka.” (HR. Abu Daud)

3. Jama’ah berarti Kumpulan Para Shahabat Nabi SAW

Imam Qadhi Ibnu Abi Al-Izz Al-Hanafi berkata, “‘Al-Jama’ah’ adalah kaum muslimin, yaitu para sahabat dan tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan.” (Syarah Aqidah Ath-Thawiyah, hal 431)

4. Jama’ah berarti Berada dalam Al-Haq

Ibnu Mas’ud menerangkan, bahwa yang dimaksud dengan ‘Jama’ah’ adalah orang yang berada dalam haq walaupun dia sendiri (Man kaana ‘alal haqqi fahuwa jamaa’ah wa-in kaana waahidan)

Makna Jama’atul Muslimin

Dari Hudzaifah, “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan sedangkan aku bertanya tentang kejahatan, karena hal itu takut menimpa diriku, lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami dulu berada dalam jahiliyah dan kejahatan, kemudian Allah mendatangkan atau membawakan kebaikan (agama) kepada kami, maka apakah setelah kebaikkan ini akan terjadi lagi kejahatan?’ Nabi menjawab, ‘Ya.’ Lalu aku bertanya lagi, apakah setelah kejahatan itu akan datang lagi kebaikan?’ ‘Ya, tetapi masih ada dakhannya.’ Lalu aku bertanya, ‘Apa itu dakhannya?’ Nabi menjawab, ‘Suatu kaum yang memberikan petunjuk bukan dengan petunjukku, engkau kenal mereka tetapi engkau mengingkarinya.’ Lalu aku bertanya lagi, ‘Apakah setelah setelah kebaikan itu akan datang lagi kejahatan?’ Nabi menjawab, ‘Ya, da’i-da’i yang mengajak ke pintu Neraka Jahanam. Barang siapa yang memenuhi panggilan mereka, niscaya akan dilemparkan ke neraka.’ Lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, terangkan kepada kami sifat-sifat mereka?’ Nabi menjawab, ‘Mereka itu sekulit dengan kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita.’ Aku bertanya lagi, ‘Apa yang engkau perintahkan kepada ku jika aku mengalami hal itu?’ Nabi menjawab, ‘Tetaplah dalam Jama’ah Muslimin dan Imam mereka.’ Aku bertanya, ‘Bagaimana andai tidak ada Jama’ah dan Imam?’ Nabi menjawab, jauhilah semua firqah yang ada walau engkau harus menggigit akar suatu pohon dan engkau berada dalam keadaan itu.” (HR. Bukhari)

Berkenaan dengan hadits di atas, bahwasannya yang dimaksud dengan hadits ini ialah apabila di bumi ini tidak ada Khalifah, maka hendaklah engkau ujlah (menjauhkan diri) dan bersabar atas beratnya dan pahitnya keadaan zaman. (Fathul Baari, Juz 13, hal 36)

Jika engkau melihat adanya khalifah, maka tetaplah dalam kekhalifahannya sekalipun dia memukul punggungmu, dan jika tidak ada khalifah, maka larilah (keluarlah). (Fathul Baari, Juz 13, hal 36)

Jadi bahwasannya yang dimaksud dengan ‘Jama’atul Muslimin’ dalam hadits tersebut adalah kekhalifahan, yang mana Khalifahnya diangkat oleh musyawarah kaum muslimin dan ia mempunyai batas wilayah tertentu. Adakah khalifah saat ini sesuai dengan makna hadits di atas? Jawabannya, belum ada.

“Barang siapa membai’at seorang Amir (Khalifah) tanpa musyawarah umat Islam, maka tidak ada bai’at (tidak sah bai’atnya) terhadap orang yang ia bai’at karena khawatir akan terjadi pembunuhan.” (HR. Ahmad)

Koreksi terhadap Hadits yang Mewajibkan Berjama’ah

“Laa islaama illaa bi jama’ah walaa jamaa’ata illa bi imaarah walaa imaarah illaa bilba’iah walaa bai’ah illa bithaa’ah.”

“Tiada Islam kecuali dengan berjama’ah, tiada jama’ah kecuali dengan Amir, tiada Amir kecuali dengan bai’at, tiada bai’at kecuali dengan taat.”

Hadits ini digunakan oleh jama’ah tertentu untuk mengajak orang-orang agar masuk ke dalam golongan mereka serta pemahaman mereka. Akan tetapi, apakah hadits ini valid?

Hadits ini dikeluarkan oleh Sunan Darimi, dalam Kitab Muqaddimah, no hadits 256.

Dengan Susunan Sanad:

Umar -> Tamiimiddaariiy -> Abdirahman bin Maysarah -> Shafwan Ibnu Rustum -> Baqiyyah -> Yazid Ibnu Harun -> HR. Darimi

Kritik terhadap Rawi Hadits

Baqiyyah
Ibnu Mubarak berkomentar terhadap Baqiyyah, “Dia orang jujur, tetapi dia mencatat hadits dari siapa saja yang datang dan pergi (sembarangan).
Abu Hatim berkomentar, “Tidak bisa dijadikan hujjah.”
Abu Mashir berkomentar, “Hadits-hadits Baqiyyah tidak bersih.”
Ibnu Khuzaimah berkata, “Tidak menjadikan hujjah dengan hadits Baqiyyah.”
Ahmad bin Hanbal berkomentar, “Aku mengira Baqiyyah meriwayatkan hadits Munkar dari orang-orang majhul (tidak dikenal).”
(Mizanul I’tidal, juz 1, hal 331-332)

Shafwan bin Rustum
Ia rawi yang majhul (tidak dikenal).
Ima Azzadi berkomentar, “Haditsnya munkar.”

Abdurahman bin Maysarah
Imam Al-Ajli berkomentar, “Tsiqqah.”
Imam Ibnu Al-Madani berkomentar, “majhul (tidak dikenal).”
(Mizanul I’tidal, juz II, hal 594)

Kesimpulan

Hadits di atas berpredikat Mauquf, dan setiap hadits Mauquf tidak bisa menjadi hukum syar’i, bahkan derajat hadits tersebut dhaif karena beberapa rawinya telah dicela.

Wallahu a-lam.