Oleh: D. Hamdani

Mu’adz bin Jabal RA menuturkan, “Aku pernah dibonceng Nabi SAW di atas seekor keledai. Lalu beliau bersabda kepadaku, ‘Hai Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah SWT yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah SWT?’ Aku menjawab, ‘Allah SWT dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau bersabda, ‘Hak Allah SWT yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah supaya mereka hanya beribadah kepada-Nya dan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya; sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah SWT adalah bahwa Allah SWT tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya.’ Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah SAW, tidak perlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang?’ Beliau menjawab, ‘Janganlah kamu menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka, sehingga mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri.” (HR. Bukhari-Muslim)

Seandainya kita mentadabburi hadits di atas, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa:
Hak Allah SWT (yang wajib dipenuhi hamba) adalah: 1. Diibadahi, 2. Tidak disekutukan (baca: di-tauhid-kan), sementara hak hamba (yang pasti dipenuhi Allah SWT adalah tidak di-adzab (disiksa).

Mu’adz bin Jabal RA

Mu’adz bin Jabal RA adalah Ibnu Amru bin Aus Al-Anshari Al-Khazraji, Abu Abdirrahman, seorang sahabat yang masyur dan termasuk para sahabat yang terkemuka. Dia ikut serta dalam Perang Badar dan sesudahnya. Beliau pribadi yang mumpuni dalam bidang ilmu, hukum-hukum dan Al-Qur’an, hingga Nabi SAW bersabda untuknya, “Mu’adz dibangkitkan di hari kiamat nanti berada satu langkah di depan para ulama.”

Syarah Hadits

Perkataan Mu’adz, “Aku pernah dibonceng Nabi SAW.” Menunjukkan dibolehkannya membonceng di atas binatang tunggangan; perkataan ini juga menunjukkan kepada kita tentang keutamaan Mu’adz.

“Di atas seekor keledai.” Dalam sebuah riwayat namanya ‘Ufair. Hal ini juga menunjukkan ke-tawadhuan-an Rasulullah SAW, karena mengendarai seekor keledai dan membonceng orang di atasnya.

“…Tahukah kamu apa hak Allah SWT yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya?” Yakni hak yang dimiliki oleh-Nya yang wajib atas mereka.

“…Aku menjawab, ‘Allah SWT dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Di dalamnya terdapat pelajaran yang baik bagi seorang pelajar. Bagi orang yang ditanya tentang suatu ilmu yang tidak diketahuinya, hendaknya ia mengatakan demikian.

“…Supaya mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya…” Yakni mentauhidkannya dalam beribadah. Hal itu harus dengan keterbebasan diri dari syirik. Sebab, orang yang tidak terbebas dari syirik berarti belum melakukan ibadah semata-mata hanya karena Allah SWT. Akan tetapi dia sebagai seorang yang musyrik yang telah menjadikan bagi-Nya tandingan.

Dalam sebagian Al-Atsar Al-Ilahiyah (firman-firman Ilahi dalam lembaran-lembaran suci terdahulu) dinyatakan, “Sesungguhnya Aku, jin dan manusia dalam berita yang besar. Aku telah menciptakan, akan tetapi selan Ku-lah yang disembah. AKu yang memberi rezeki, akan tetapi selain-Ku-lah yang diucapkan syukur kepadanya. Kebaikan-Ku yang turun kepada hamba-Ku, sementara kejahatan merekalah yang naik kepada-Ku. Aku tunjukkan bukti cinta-Ku kepada mereka, dengan memberikan banyak nikmat agar mereka mencintai-Ku, namun mereka berperilaku berbagai maksiat yang membuat-Ku benci kepada mereka.”

“…Sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah SWT adalah, bahwa Allah SWT tidak akan menyiksa orang yang tidak syirik kepada-Nya dengan sesuatu apapun.” Al-Hafidz Ibnu Hajar berata, “Ungkapan ini hanya menyebutkan penafian untuk berbuat syirik, karena hal itu secara tuntutan mengundang untuk bertauhid dan secara kelaziman (pasti) mengundang penetapan terhadap risalah. Sebab barangsiapa yang mendustakan Rasulullah SAW maka dia telah mendustakan Allah SWT, dan barangsiapa yang mendustakan Allah SWT maka dia adalah orang yang musyrik.

“…Tidak perlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang?” Di dalamnya terdapat petunjuk tentang disunnahkannya memberikan kabar gembira kepada seorang muslim. Demikian pula terdapat pelajaran tntang sikap para sahabat yang gembira dengan berita semacam ini.

“…Janganlah kamu menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka sehingga mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri.” Yakni bergantung kepada hal itu (mengandalkan ini), sehingga tidak mau bersaing (secara sehat) dalam berbuat. Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Akhirnya Mu’adz memberitakan juga kabar gembira tersebut menjelang wafatnya, karena takut berdosa (menyembunyikannya.” Wallahu a’alam.

Pustaka Acuan

Syaikh Abdurrahman Hasan Alu Syaikh. 2007. Fathul Majid, Penjelasan Kitab Tauhid. Jakarta:Pustaka Azzam.