eramuslm.com – Jika ada orang Amerika yang merasa sangat tidak nyaman saat ini, bisa dipastikan itu adalah Terry Jones.

Seorang pria berumur 58 tahun, rambutnya sudah beruban, dan selalu menenteng sebuah pistol kaliber 40 di pinggulnya. Jones adalah kepala jemaat yang kecil—mungkin tidak lebih dari 50 orang—di Gainesville, Florida. The Dove World Outreach Center, dikenal sebagai gereja, sebenarnya adalah gereja lokal yang penuh semangat, gereja bergaya Pentakosta yang banyak ditemukan di kota-kota dan daerah pedesaan di seluruh Amerika, dan telah ada sejak hari-hari awal Republik.

Coba pikirkan Robert Duvall dalam “The Apostle,” film nominasi Oscar tahun 1997 tentang kejatuhan dan penebusan dosa menteri Texas.

Terry Jones memberitakan pesan yang jauh berbeda dari pendeta di film Hollywood itu. Dan itulah sebabnya misi Jones membakar al-Quran untuk menandai peringatan 9 / 11 Sabtu kemarin telah berhasil mendominasi berita, dan politik global. Ia telah menutup semua berita tentang kecurigaan (palsu) bahwa Presiden Obama adalah seorang Muslim dan pembangunan sebuah masjid gi ground zero.

Dua hari sebelum 11 September 2010, pada hari Kamis, Jones kembali mengejutkan media dengan berita bahwa ia membatalkan acara bakar Quran itu. Dia mengatakan ia telah mencapai kesepakatan dengan pejabat Islam di New York City untuk memindahkan pusat Islam yang direncanakan di ground zero.

Namun para pejabat Islam segera mengatakan bahwa mereka tidak mencapai kesepakatan tersebut. Dalam beberapa jam setelah itu, Jones berdiri di luar gereja dan mengatakan kepada wartawan ia telah “dibohongi” dan mengatakan ia acara pembakaran Quran hanya “ditunda”—bukan dibatalkan.

Jones berpendapat bahwa Islam adalah agama “palsu” yang berasal” dari setan” dan karenanya harus dilenyapkan. Ia juga percaya bahwa Islam akan mengambil alih Amerika Serikat. Dengan dua pemikiran yang terang saja sangat kampungan dan idiot itu, ia merencanakan untuk membakar-Quran: “Kita harus mengirim pesan yang jelas pada unsur radikal Islam,” kata Jones. “Kami tidak akan lagi dikontrol dan didominasi oleh ketakutan dan ancaman. Sudah saatnya Amerika kembali menjadi Amerika.”

Jenderal David Petraeus, komandan perang AS dan NATO di Afghanistan, mengatakan rencana oleh Dove World Outreach Center untuk membakar hingga 200 al-Quran itu dapat membahayakan pasukan AS di negara Amerika dan di seluruh dunia. Menteri Luar Negeri Hillary Clinton, dalam sebuah jamuan buka puasa Ramadhan, menyebut pembakaran buku itu sebagai sesuatu “yang tidak sopan dan memalukan.” Dan Jaksa Agung Eric Holder menyebut rencana Jones ‘”bodoh dan berbahaya.”

Bahkan Angelina Jolie—betul, artis Hollywood kenamaan itu!—mengatakan, “Saya tidak punya kata-kata untuk seseorang yang akan membakar sebuah kita suci agama orang lain.” Jolie mengatakannya di Islamabad setelah mengunjungi kamp pengungsi di Pakistan yang dilanda banjir. Jolie adalah duta untuk badan pengungsi PBB.

Sebuah patung Jones, terbungkus dalam bendera Amerika, dibakar di Afghanistan, dan Muslim di Indonesia berkumpul di luar kedutaan besar AS mengancam kekerasan jika ada Qur’an yang dibakar.

Juga, semakin banyak pemimpin Kristen angkat suara terhadap rencana Jones. “Tolong jangan hakimi semua orang Kristen oleh perilaku satu ekstremis saja,” kata Presiden National Association of Evangelicals, Leith Anderson. Dan kantor antaragama Vatikan pada hari Rabu mengecam “Hari Bakar Quran” sebagai rencana yang “memalukan dan mengubur (diri sendiri).”

“Saya cuma membakar buku, bukan membunuh,” kata Jones, enteng. Ancaman pembunuhan, yang menyebabkan dia dikawal polisi beberapa hari belakangan, juga tidak dihiraukannya.

Jones, oh Jones…. (sa/berbagaisumber)