Oleh: Ust. Imam Nuryanto

Dari Qatadah ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Shaum pada hari Arafah itu akan menghapus dosa dua tahun, setahun yang telah lalu dan setahun kemudian. Sedangkan shaum Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Ahmad, Muslim)

Berdasarkan penamaan shaum ini dengan ‘shaumu yaumi ‘arafah’ maka ada yang memahami bahwa shaum Arafah itu waktunya harus bersesuaian dengan wukuf di Arafah. Karena Idul Adha didahului oleh shaum hari Arafah, maka Idul Adha pun ditetapkan berdasarkan wukuf di Arafah itu.

Latar Belakang Penamaan Arafah

Ibnu Abidin menjelaskan, “Arafah adalah ismul yaum (nama hari) dan Arafaat adalah ismul makan (nama tempat).” (Kitab Hasyiah Raddil Mukhtar, II: 192)

Menurut Imam Ar-Raghib, Al-Baghawi, dan Al-Kirmani, Arafah adalah nama hari ke-9 dari bulan Dzulhijjah. Hari tersebut dinamakan Arafah berkaitan dengan peristiwa mimpinya Nabi Ibrahim yang diperintah untuk menyembelih anaknya. Pada pagi harinya maka ia mengetahui bahwa mimpi itu benar-benar (datang) dari Allah. Maka (hari itu) dinamakan hari Arafah. (Kitab Al-Mughni, VI: 196)

Menurut Imam Al-‘Aini dan Ar-Raghib, Arafat adalah nama bagi tempat yang khusus ini (Lihat Umdatul Qari, I: 263). Adapun tempat tersebut dinamakan Arafah berkaitan dengan peristiwa ta’arufnya antara Nabi Adam dan Hawa di tempat itu, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abbas ,”Dan keduanya ta’aruf di Arafat, karena itu dinamai ‘Arafat. (Lihat Al-Kamil fit Tarikh, I: 12)

Berbagai keterangan di atas menunjukkan bahwa penamaan Arafah, baik sebagai ismul yaum (nama hari) maupun ismul makan (nama tempat) sudah digunakan sebelum disyari’atkannya ibadah haji.

Latar Belakang Penamaan Shaum dengan Arafah

Nabi menyatakan, “Shaumu yaumi ‘arafah.”

Kalimat Yaum Arafah disebut idhafah bayaniyyah, yakni bayan zamani (keterangan waktu), bukan idhafah makaniyyah, apalagi idhafah fi’liyah.  Berdasarkan latar belakang penamaan di atas maka struktur kalimat shaum yaum Arafah dipahami sebagai shaum pada hari ke-9 bulan Dzulhijjah yang disebut hari Arafah. Dengan demikian, penyandaran kata shaum pada kalimat yaum arafah untuk menunjukkan bahwa yaum arafah (hari ke-9) menunjukkan syarat sahnya shaum tersebut. Dengan perkataan lain, shaum itu terikat oleh miqat zamani (ketentuan waktu).

Dalam berbagai hadits, shaum ini digunakan beberapa sebutan, yaitu:

a. Tis’a Dzulhijjah (9 Dzulhijjah)

Dari sebagian istri Nabi SAW, ia berkata, “Rasulullah SAW shaum tis’a dzilhijjah (9 Dzulhijjah), hari asyura, tiga hari setiap bulan.” (HR. Abu Daud, Ahmad, Baihaqi)

b. Shaum Al-‘Asyru

Dari Hafsah, ia berkata, “Empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW: shaum asyura, shaum arafah, shaum tiga hari setiap bulan dan dua rakaat qabla subuh.” (HR. Ahmad)

Kata Al-‘Asyru secara umum menunjukkan jumlah 10 hari. Berdasarkan makna umum itu, maka dapat dipahami dari hadits tersebut bahwa Rasul tidak pernah meninggalkan shaum 10 hari bulan Dzulhijjah. Namun pemahaman itu jelas bertentangan dengan ketetapan Nabi sendiri yang melarang shaum pada hari Iedul Adha (10 Dzulhijjah).

Dari Aisyah RA, ia mengatakan, “Rasulullah SAW melarang dua shaum, yaitu pada hari Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. Muslim)

Dengan demikian kata Al-‘Asyru pada hadits ini sama maksudnya dengan Tis’a Dzulhijjah pada hadits di atas. Adapun penamaan shaum tanggal 9 Dzulhijjah dengan Al-‘Asyru, karena hari pelaksanaan shaum tersebut termasuk pada hari-hari Al-‘Asyru (10 hari pertama bulan Dzulhijjah) yang agung sebagaimana dinyatakan Rasulullah SAW dalam hadits berikut:

Dari Ibnu Abbas, bahwasannya ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada dalam hari-hari yang amal shalih padanya lebih dicintai Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini. Para shahabat bertanya, ‘Apakah jihad fi sabilillah juga tidak termasuk?’ Rasul menjawab, ‘Tidak. Kecuali seseorang yang berkorban dengan jiwanya dan hartanya kemudian dia tidak mengharapkan apa-apa darinya.” (HR. Tirmidzi)

Selain itu penamaan tersebut menunjukkan bahwa hari ‘Arafah itu hari yang paling agung di antara hari-hari yang sepuluh itu, sebagaimana dinyatakan oleh Nabi SAW:

“Tiada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari neraka melebihi hari Arafah, dan bahwa ia dekat. Kemudian malaikat merasa bangga dengan mereka, mereka (malaikat) berkata, ‘Duhai apakah gerangan yang diinginkan mereka?” (HR. Muslim)

Berbagai keterangan di atas menunjukkan bahwa penamaan shaum it dengan yaum arafah, tis’a dzulhijjah, dan al-‘asyru menunjukkan bahwa pelaksanaan shaum tersebut terikat oleh miqat zamani (tanggal 9 Dzulhijjah).

Tarikh Tasyri’ Shaum Arafah dan Iedul Adha

Dari Anas, ia berkata, “Rasulullah SAW datang ke Madinah, dan mereka mempunyai dua hari yang mereka bermain-main pada keduanya pada masa jahiliyyah. Maka beliau SAW bersabda, ‘Sungguh Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari Adha dan hari Fitri.” (HR. Ahmad)

Sehubungan dengan hadits ini para ulama menerangkan bahwa Ied yang pertama disyari’atkan adalah Iedul Fitri, kemudian Iedul Adha. Keduanya disyariatkan pada tahun ke-2 hijrah. Dalam hal ini para ulama menerangkan:

“Yaum fitri dari Ramadhan (ditetapkan) sebagai Ied bagi semua umat ini tiada lain sebgai isyrat karena banyaknya pembebasan (dari neraka), sebagaimana nari Nahar, yang dia itu Ied Akbar, karena banyaknya pembebasan (dari neraka) pada hari Arafah sebelum Iedul Adha. Karena tidak ada hari yang dipandang lebih banyak pembebasan dari pada hari itu (Arafah).” (Lihat Hasyiah Al-Jumal, VI: 203)

Keterangan di atas menunjukkan bahwa Shaum Arafah mulai disyari’atkan bersamaan dengan Iedul Adha, yaitu tahun ke-2 hijriah. Keduanya disyari’atkan setelah disyari’atkannya Shaum Ramadhan dan Iedul Fitri pada tahun yang sama. Adapun ibadah haji (termasuk di dalamnya wukuf di Arafah) mulai disyari’atkan pada tahun ke-6 hijriah sebagaimana dinyatakan oleh jumhur ulama (Lihat Fathul Bari, III: 442). Namun menurut Ibnul Qayyim disyari’atkannya tahun ke-9 atau ke-10 Hijriah. (Lihat Zaadul Ma’ad, II: 101, Manarul Qari, III: 64)

Keterangan-keterangan di atas menunjukkan bahwa waktu disyari’atkannya Shaum Arafah dan Iedul Adha lebih dahulu daripada disyari’atkannya wukuf di Arafah. Oleh sebab itu waktu shaum Arafah dan Iedul Adha tidak didasarkan pada standar pelaksanaan wukuf di Arafah.

Keutamaan Shaum Arafah

Dari Abu Qatadah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Shaum pada hari Arafah itu akan menghapus dosa dua tahun, setahun yang telah lalu dan setahun kemudian. Sedangkan shaum Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Ahmad)

Shaum Arafah Hanya Disunnahkan bagi Muslimin yang Tidak Sedang Wukuf di Arafah

Dari Al-Mahdiy Al-Hajariy, telah menceritakan kepada kami Ikrimah ia berkata, “Kami pernah bersama Abu Hurairah dirumahna lalu ia menceritakan kepada kami, ‘Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang shaum Arafah di Arafah.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah)

Keterangan di atas menunjukkan larangan Rasulullah SAW bagi kaum muslimin yang sedang wukuf di Arafah untuk melaksanakan shaum ‘Arafah. Bahkan menurut keterangan berikut di saat wukuf di Arafah, Rasulullah SAW memperlihatkan bahwa beliau sendiri tidak melaksanakan shaum pada hari itu.

Dari Ummu Fadl binti Al-Harits, “Orang-orang berselisih dihadapannya pada hari Arafah tentang shaum Nabi SAW. Sebagian diantara mereka berkata, ‘Beliau (Nabi) shaum.’ sedangkan yang lain berkata, ‘Beliau tidak shaum.” Maka ia (Ummu Fadl) mengirmkan segelas susu kepada belia yang tengah wukuf di atas untanya lalu meminumnya. (HR. Bukhari)

Wallahu a’lam