Oleh: D. Hamdani

Dari Jabir RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan. Setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim)

 

Makna Bid’ah

Bid’ah Secara Bahasa

Bid’ah dari segi bahasa berasal dari kata bada’a – bad’an (bentuk jamaknya adalah Al-Bida’) yang artinya wabtada’a syai-a yakni mendirikan atau membuat tanpa ada contoh sebelumnya. Sementara menurut Muhammad Sa’id Al-Qathani kata bid’ah berasal dari kata ibtida’ yang artinya ikhtira’ (mengada-ngada; membuat sesuatu yang baru) yaitu sesuatu yang muncul tanpa dasar sebelumnya, maupun contoh yang ditiru. Seperti dalam firman-Nya:

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ ﴿١١٧﴾

“Allah pencipta (badii’u) langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk) menciptakan sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya, ‘Jadilah’ Lalu jadilah ia.” (Al-Baqarah: 117)

Artinya bahwa Allah menciptakan langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya.

Juga dalam:

قُلْ مَا كُنتُ بِدْعًا مِّنَ الرُّسُلِ وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلَا بِكُمْ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ وَمَا أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ مُّبِينٌ ﴿٩﴾

“Katakanlah: “Aku bukanlah rasul yang pertama (bid’an) di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.”

(Al-Ahqaf: 9)

Dari pengertian di atas, Imam Asy-Syathibi dalam Al-I’tisham menyimpulkan bahwa semua perkara baru dinamakan bid’ah, mengeluarkannya untuk dijadikan tingkah laku (perbuatan) yang bersandar padanya dinamakan perbuatan bid’ah, dan bentuk dari perbuatan tersebut dinamakan bid’ah. Bahkan keilmuan yang dibentuk dari teori dan sisi tersebut dinamakan bid’ah. Artinya bid’ah—menurut etimologis—adalah semua perkara yang tidak memiliki dalil syar’i.

Sementara menurut kamus Lisanul Arab kata bid’ah berasal dari bada’a – asy-syai’a – yubdi’uhu – bid’an – ibtida’ahu, maknanya ia melahirkan, membuat, mewujudkan, atau mengadakan sesuatu. Al-badi’u dan Al-bid’u adalah sesuatu yang ada sejak awal, seperti dalam ungkapan Al-Qur’an: Qul maa kuntu bid’an minar-rusuli (Katakanlah, ‘Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul.’ (Al-Ahqaf: 9). Maksudnya aku bukanlah seorang rasul yang pertama diutus, banyak rasul yang telah diutus sebelumku.

Dalam kamus As-Shihah, bid’ah adalah sesuatu yang baru dalam agama setelah penyempurnaannya.

Jadi bid’ah secara bahasa adalah setiap hal baru yang diada-adakan—baik terpuji maupun tercela—tanpa ada contoh sebelumnya. Istilah bid’ah ini juga termasuk dalam hal yang diada-adakan (dicipta) oleh hati, diucapkan oleh lisan, dan dikerjakan oleh anggota badan.

Bid’ah Secara Istilah

Adapun secara istilah atau syara’, bid’ah berarti: Thariiqatu fiddiini mukhtara’atu tudhaahisy syar’iyyata yuqshadu bissuluuki ‘alaihaa maa yuqshadu biththariiqatisy syir’iyyah (Bid’ah adalah suatu cara yang diada-adakan dalam urusan agama yang menyerupai syari’at, tujuan utamanya sama dengan tujuan melakukan syari’at, atau dengan kata lain dengan tujuan mengekspresikannya dalam bentuk tingkah laku atau perbuatan yang bersandar pada syari’at secara berlebihan, terutama dalam beribadah kepada Allah). (Imam Asy-Syathibi dalam Al-I’tisham)

Dalam definisi secara istilah yang disebutkan oleh Imam Asy-Syathibi di atas maka sesungguhnya bid’ah hanya ada pada urusan agama dan syari’at dan tidak pada persoalan dunia. Maka bid’ah dalam agama adalah tercela. Hal ini seperti apa yang telah disepakati para ulama mengenai definisi bid’ah yakni ia berbeda dengan syari’at Allah dengan tujuan keagamaan. Sementara dalam masalah furu’iyyah yang merupakan wilayah ijtihad, pengertian bid’ah berbeda-beda. Adapun apabila tata cara yang baru yang sengaja dibuat tersebut khusus berkenaan dengan masalah dunia, tentu tidak dinamakan bid’ah, seperti yang dikatakan oleh Imam Asy-Syathibi.

Menurut Ibnul Jauzy, bid’ah merupakan ungkapan tentang suatu perbuatan yang belum ada, karena itu perlu diada-adakan. Bid’ah ini berseberangan dengan syari’at dan bertentangan dengannya, baik dengan cara menambahi atau mengurangi. Jika bid’ah ini tidak bertentangan dengan syari’at, maka tetap orang-orang salaf membencinya.

Menurut Syaikh Ibnu Taimiyah, bid’ah adalah kebalikan Sunnah, yakni “Segala sesuatu yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunnah, atau ijma’ generasi salaf umat ini, baik dalam bidang aqidah maupun ibadah.” Menurut pengertian yang lebih luas bid’ah adalah “segala sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah sebagai bagian dari agama.” Jadi setiap orang yang beragama dengan sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah, maka hal itu adalah bid’ah. Walaupun dalam hal itu ia berusaha bertakwil. Termasuk di dalamnya segala kreasi baru yang diciptakan manusia tidak memiliki sandaran dalam syari’at. (Lihat Majmu’ul Fatawa, 4/156)

Adapun menurut Syaikh Muhammad ‘Abdus Salam, bid’ah berarti sesuatu yang baru dalam agama setelah agama itu dinyatakan sempurna dan setelah wafatnya Nabi SAW.

Bid’ah juga berarti sesuatu yang diciptakan namun menyalahi kebenaran yang diterima dari Rasulullah SAW dan prinsip agama yang benar.

Menurut beberapa definisi di atas bahwa sesungguhnya bid’ah merupakan sesuatu yang baru dan hanya ada pada urusan agama dan syari’at dan tidak pada persoalan dunia, adapun bid’ah dalam urusan agama adalah tercela.

Mengapa Melakukan Bid’ah?

Para pelaku bid’ah dalam melakukan amalan-amalan bid’ah dikarenakan beberapa faktor yang mendasarinya terlepas apakah ia sadar atau tidak mengapa mereka melakukan amalan bid’ah tersebut. Dalam hal ini, menurut Imam Hasan Al-Banna, ada dua faktor yang mendasari mengapa seseorang melakukan perbuatan bid’ah:

  1. Dikarenakan mengikuti hawa nafsu. Oleh sebab itu mereka juga disebut ahlul ahwa (pengikut hawa nafsu). Allah berfirman, “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya.” (Al-Imran: 7)
  2. Dikarenakan keterbatasan dan kedangkalan ilmu. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semua itu dari sisi Tuhan kami.” (Al-Imran: 7)

Kedua faktor di atas merupakan sumbernya setiap penyakit jiwa di mana setiap penyakit jiwa ini mengacu pada induk penyakit tersebut. Induk setiap penyakit jiwa adalah penyakit syahwat dimana indikatornya senantiasa mengikuti hawa nafsu; dan induk kedua adalah penyakit syubhat dimana indikatornya adalah kedangkalan ilmu. Maka untuk mengobati penyakit syahwat, menurut resep Ibnul Qayyim, adalah dengan melakukan mujahadah, sementara obat penyakit syubhat adalah dengan senantiasa menuntut ilmu. Adapun bid’ah menginduk pada kedua penyakit tersebut. Maka tepatlah, menurut Ibnul Qayyim, bahwasannya kedudukan dosa bid’ah berada pada satu tahap di bawah kekufuran, dan satu tingkat di atas dosa besar, mengapa? Karena para pelaku bid’ah tidak merasa bahwasannya amalan bid’ahnya merupakan bagian dari dosa.

Setiap Bid’ah Merupakan Kesesatan yang Tertolak

Dari Jabir RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan. Setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim)

Dari Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan agama kita ini sesuatu yang bukan merupakan bagian darinya, maka sesuatu itu tidak akan diterima (oleh Allah).” (HR. Bukhari-Muslim)

Dari Jabir bin Abdullah RA, Rasulullah SAW bersabda dalam khotbahnya, “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang baru yang tidak ada tuntunannya syar’inya, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Ahmad)

Mengapa ia merupakan kesesatan yang tertolak? Karena:

  1. Melakukan bid’ah berarti menentang dan memusuhi syar’I (pembuat syari’at), artinya ia telah mengangkat dirinya sebagai ‘penyunting syari’at’.
  2. Sesungguhnya setiap bentuk bid’ah itu—meskipun sedikit—berarti pensyari’atan tambahan atau pengurangan, atau mengubah keaslian syari’at yang benar.
  3. Orang yang berbuat bid’ah telah membangkang terhadap syari’at dan mendatangkan kesulitan baginya dalam hal mempelajari dan mengamalkan setiap perkara bid’ah tersebut.
  4. Orang yang berbuat bid’ah berarti telah mengikuti syahwat. Karena jika akal tidak mengikuti syari’at, maka tidak ada lagi yang diikutinya selain hawa nafsu dan syahwat, dan sesungguhnya mereka yang mengikuti syahwat maka ia merupakan kesesatan yang nyata. Allah berfirman:

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُم بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ ﴿٢٦﴾

“Hai Daud, sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan Hari Perhitungan.” (Shaad: 26)

Syaikhul Islam menjelaskan bahwa kerusakan yang ditimbulkannya dapat berimplikasi pada dua sisi: 1. Bid’ah merusak hati dan mempersempit ruang Sunnah dalam memperbaiki jiwa. 2. Bid’ah menentang Sunnah dan membimbing pelakunnya kepada keyakinan-keyakinan bathil dan perbuatan-perbuatan sesat, lalu keluar dari syari’at.

Para Ulama Berbicara Mengenai Bid’ah

Mengenai bid’ah Ibnu Abbas mengatakan, “Tidaklah datang suatu tahun kepada umat manusia kecuali mereka membuat-buat sebuah bid’ah di dalamnya dan mematikan sunnah, hingga hiduplah bid’ah dan matilah sunnah.”

Mengacu pada perkataan Ibnu Abbas di atas, maka dengan cara menghidupkan sunnahlah maka bid’ah pun akan mati.

Abdullah bin Mahraz berkata, “Agama akan sirna satu sunnah demi satu sunnah, seperti seutas tali yang semakin usang kekuatannya, sedikit demi sedikit.”

Ayyub As-Sakhtiyani berkata, “Tidaklah ahli bid’ah itu semakin bertambah ijtihadnya, melainkan membuatnya semakin jauh dengan Allah.”

Sufyan Ats-Tsaury berkata, “Bid’ah itu lebih disukai iblis dari pada kedurhakaan. Kedurhakaan masih ada pahalanya, sedangkan bid’ah tidak ada pahalanya.”

Dan katanya lagi, “Barangsiapa pernah mendengar dari ahli bid’ah, maka Allah tidak memberikan manfaat dari apa yang telah didengarnya itu, dan siapa yang sering berjabat tangan dengannya, maka Islamnya akan berkurang sedikit demi sedikit.”

Fudhail bin Iyadh berkata, “Siapa yang duduk-duduk bersama pelaku bid’ah, maka waspadalah darinya.”

Ia juga pernah berkata, “Siapa yang mencintai pelaku bid’ah, maka Allah menggugurkan amalnya dan mengeluarkan cahaya Islam dari hatinya.”

Dia juga berkata, “Jika engkau berpapasan dengan ahli bid’ah di suatu jalan, maka jauhilah jalan lain. Tidak ada satu amalan pun yang dilakukan ahli bid’ah yang sampai kepada Allah, dan siapa yang membantu ahli bid’ah, maka dia telah membantu untuk merusak Islam.”

Dan katanya lagi, “Siapa yang menikahkan keluarganya yang wanita dengan laki-laki ahli bid’ah, maka dia telah memutusakan hubungan kekeluargaannya. Siapa yang duduk-duduk dengan ahli bid’ah, dia tidak akan mendapat hikmah. Jika Allah mengetahui seseorang membenci ahli bid’ah, maka aku berharap agar Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya.”

Muhammad bin Nadhr Al-Haritsy berkata, “Siapa yang mendengarkan perkataan ahli bid’ah, maka perlindungan terhadap dirinya dilepaskan dan dia diserahkan kepada ahli bid’ah itu.”

Al-Laits bin Sa’d berkata, “Andaikan aku melihat ahli bid’ah dapat berjalan di atas permukaan air, aku tetap tidak akan bisa mempercayainya.”

Asy-Syafi’I berkata, “Andaikan aku melihat ahli bid’ah dapat terbang dan melayang-layang di udara, maka aku tetap tidak akan mempercayai darinya.”

Hasan Al-Banna mengatakan, “Setiap bid’ah dalam agama Allah yang tidak mempunyai dasar dan dianggap baik oleh hawa nafsu manusia, baik berupa penambahan maupun pengurangan adalah kesesatan.”

Macam Bid’ah dan Penggolongannya

Secara umum bid’ah terbagi menjadi dua, yakni bid’ah diniyah dan bid’ah duniawiyah. Bid’ah diniyah atau bid’ah yang terkait dalam masalah agama merupakan kesesatan, di mana ia dapat menyebabkan pengingkaran, dan terkadang berubah menjadi dosa besar.

Adapun bid’ah dalam masalah agama ini, menurut Syaikh Muhammad ‘Abdus-Salam, dibagi menjadi empat bagian, yaitu:

  1. Al-Bid’ah Al-Mukafirah atau bid’ah yang menyebabkan pengingkaran. Misalnya berdo’a dan meminta pertolongan pada selain Allah.
  2. Al-Bid’ah Muharramah atau bid’ah yang diharamkan. Diantara contohnya adalah bertawassul pada Allah melalui orang-orang yang telah meninggal, meminta do’a mereka, menjadikan kuburannya sebagai mesjid, dan lain sebagainya.
  3. Al-Bid’ah Al-Makruhah Tahrim yang maksudnya adalah pengharaman. Misalnya Shalat Dzuhur setelah Shalat Jum’at, atau membaca Qur’an dengan pamrih imbalan, mengqodho shalat, dsb.
  4. Al-Bid’ah Al-Makruhah Tanjih yang maksudnya adalah penegasan untuk dijauhi. Misalnya berjabat tangan setelah shalat.

Sementara Imam Syafi’I berkata, “Almuhdasat (hal-hal baru) ada dua bagian. Pertama, hal-hal baru yang bertentangan dengan Al-Qur’an, hadits, ijmak, atau atsar. Inilah bid’ah yang merupakan kesesatan. Kedua, kebaikan yang diciptakan dan tidak diperselisihkan oleh siapa pun (terutama yang tidak diperselisihkan atau tidak bertentangan dengan syari’at itu sendiri—pen). Ini adalah hal baru yang tidak tercela.”

Imam Ibnu Hazm mengatakan, “Bid’ah dalam agama adalah segala hal yang tidak ada dalam Al-Qur’an maupun Sunnah, namun ada di antaranya yang pelakunya mendapat pahala dan dimaafkan sesuai niat baik yang dimaksudkannya (maksudnya hal baru yang tidak bertentangan dengan syari’at seperti yang telah diucapkan oleh Imam Syafi’i—pen). Ada juga yang pelakunya diberi ganjaran dan perbuatannya dianggap baik, yaitu yang hukum asalnya adalah mubah. Sementara yang tercela dan pelakunya tidak bisa ditolelir yaitu yang dikatakan rusak oleh dalil, termasuk yang mengucapkannya.”

Dari segi hukum, bid’ah terbagi menjadi dua: bid’ah besar dan kecil. Bid’ah besar tidak berada pada satu derajat keharaman sebagaimana telah diketahui bahwa tingkatan dosa besar kemaksiatannya juga berbeda-beda. Sementara bid’ah kecil adalah bid’ah parsial yang terjadi dalam masalah-masalah furu’ dengan syarat bahwa hal itu terjadi karena faktor syubhat yang dipersepsikan sebagai syari’at dan agama.

Bid’ah kecil tidak akan berubah menjadi besar dengan syarat pelakunya tidak melakukan hal-hal berikut:

  1. Rutinitas.
  2. Tidak mengajak orang lain untuk melakukannya.
  3. Tidak dilakukan di tempat-tempat perkumpulan orang, tempat-tempat dimana Sunnah dilaksanakan, dan syi’ar-syi’ar agama ditampakkan.
  4. Dan tidak menganggapnya remeh.

Adapun bid’ah besar adalah bid’ah yang bersifat global, yang terjadi pada berbagai cabang syari’at yang tidak mungkin dibatasi. Bid’ah inilah yang jelas termasuk ancaman Al-Qur’an dan Sunnah.

Menurut jenisnya Ibnu Taimiyah membedakan bid’ah menjadi dua: 1. Di bidang ucapan dan keyakinan, dan 2. Di bidang perbuatan dan ibadah. Bid’ah jenis kedua mengandung bid’ah jenis pertama, sedangkan bid’ah jenis pertama menyeret kepada bid’ah jenis kedua. Contoh bid’ah jenis pertama di bidang ucapan adalah bid’ahnya wirid-wirid gaya baru, dan di bidang keyakinan adalah bid’ahnya kaum Rafidhah, Khawarij, Muktazilah, Murji’ah, dan Jahmiyah. Sedangkan contoh bid’ah jenis kedua di bidang perbuatan adalah mengenakan pakaian bulu dalam rangka ibadah dan merayakan maulid. Dan di bidang ibadah adalah mengeraskan bacaan niat di dalam shalat dan mengumandangkan adzan di dalam shalat Id.

Syaikhul Islam Ibnu taimiyah berpendapat bahwa bid’ah menjadi bathil  menurut kadar pelanggarannya terhadap Qur’an dan Sunnah, juga penyimpangannya dari jalan yang ditempuh oleh generasi Salaf. Jadi bid’ah bukannlah kebathilan murni. Sebab, jika begitu maka bid’ah itu akan jelas terlihat dan tidak akan diterima. Tapi bid’ah juga bukan kebenaran murni yang tanpa cela. Jika demikian, niscaya ia akan sesuai dengan Sunnah yang tidak bertentangan dengan kebenaran murni yang tidak mengandung kebenaran dan kebathilan sekaligus. Dengan demikian, sebagian bid’ah lebih berat daripada yang lain. Yang besar di dalam bid’ah adalah pada masalah-masalah pokok dan yang kecil ada pada masalah furu’.

Sementara menurut menurut Al-Banna, bid’ah terbagi kedalam tiga jenis: bid’ah idhafiyah, bid’ah tarkiyah, dan iltizam dalam ibadah-ibadah mutlak. Ketiga jenis bid’ah ini masih diperdebatkan oleh para ulama karena ada syubhat pada metode penarikan dalil dalam menganalogikan cara, kondisi, dan berbagai perincian yang tidak berdasarkan dalil dengan akar masalah yang didasarkan kepada dalil. Secara lebih rinci adalah:

  1. Bid’ah idhafiyah yaitu segala sesuatu yang disyari’atkan akarnya namun sifatnya tidak. Hal ini seperti dikatakan Imam As-Syathibi memiliki dua cacat yang salah satunya berkaitan dengan dalil, sehingga dari sisi ini ia tidak termasuk bid’ah. Sementara sisi yang lain tidak memiliki kaitan kecuali dengan sesuatu yang serupa dengan bid’ah hakiki. Artinya dari satu sisi ia adalah Sunnah karena didasarkan pada dalil. Sementara di sisi lain dianggap bid’ah karena didasarkan pada syubhat, bukan kepada dalil, atau bahkan tidak didasarkan pada suatu apa pun. Atau bisa dikatakan dari sisi asal ia mempunyai landasan, namun dari sisi tata cara, hal ihwalnya, atau perinciannya secara detail tidak berdasarkan dalil, padahal tuntutan ini diperlukan. Diantara contoh bid’ah ini adalah seperti: shalat raghaib dan shalat malam nisfu sya’ban; melakukan adzan; mengeraskan suara dalam zikir dan membaca Al-Qur’an di dekat jenazah.
  2. Bid’ah tarkiyah, yaitu meninggalkan hal yang sebenarnya dihalalkan oleh syari’at—tanpa melihat pertimbangan syar’i—dengan maksud keagamaan. Misalnya banyak sufi yang menolak mengkonsumsi makanan yang baik dengan maksud peribadatan kepada Allah. Akan tetapi menurut Imam Asy-Syathibi  bahwa orang yang mencegah dirinya dari hal-hal yang dihalalkan Allah tanpa ada udzur syar’I[1], maka dirinya telah keluar dari Sunnah Nabi SAW. Sedangkan orang yang melakukan sesuatu (dalam urusan agama) tanpa berlandaskan Sunnah, maka dirinya jelas-jelas telah berbuat bid’ah.
  3. Bid’ah iltizam dalam ibadah-ibadah mutlak, yaitu menentukan waktu, tempat, bilangan perbuatan, dan ucapan yang sebenarnya tidak dibatasi oleh syari’at. Misalnya dalam zikir, istigfar, shalawat atas Nabi, dan lain-lain.

Penggolongkan para ahli bid’ah, menurut Ibnul Jauzy, mengacu pada hadits tentang perpecahan umat baik dari kalangan Yahudi, Nashrani, dan Islam. Ia mengatakan bahwa orang Yahudi akan terpecah ke dalam 72 golongan, begitupula dengan Nashrani. Sementara umat Islam akan terpecah ke dalam 73 golongan, semuanya akan masuk ke neraka kecuali satu golongan saja. Diantara induknya para ahli bid’ah dari golongan Islam, menurut Ibnul Jaujy, adalah mengacu pada golongan-golongan tersebut: Haruriyah, Qadariyah, Jahmiyah, Murji’ah, Rafidhah dan Jabariyah. Dan diantara golongan-golongan tersebut terpecah lagi menjadi banyak golongan lain yang berbeda. Haruriyah terpecah menjadi 12 golongan, Qadariyah terbagi ke dalam 12 golongan yang berbeda, Jahmiyah terpecah ke dalam 12 golongan yang lain, Murji’ah menjadi 11 golongan, Rafidhah menjadi 12 golongan, dan Jabariyah terpecah ke dalam 12 golongan.

Beragamnya Hukum Bid’ah

Imam Asy-Syathibi dalam kitabnya Al-I’tisham menjelaskan dengan panjang lebar mengenai beragamnya hukum bid’ah ini. Dan di antara sebagian dari hukum bid’ah adalah bahwasannya bid’ah ada yang haram dan ada yang makruh, begitu pun dengan tingkatannya yang berbeda-beda ada yang jelas-jelas merupakan kekufuran, ada juga bid’ah yang merupakan kemaksiatan akan tetapi bukan suatu kekufuran, dan ada pula bid’ah yang hukumnya makruh.

Dan di antara bid’ah yang kufur adalah bid’ah jahiliyah yang telah diperingatkan oleh Al-Qur’an bagi mereka yang melakukannya. Allah berfirman:

وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَـٰذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَـٰذَا لِشُرَكَائِنَا ۖ فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلَا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَىٰ شُرَكَائِهِمْ ۗ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ ﴿١٣٦﴾

“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka, ‘Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.” (Al-An’Am: 136)

Dan firman-Nya lagi:

وَقَالُوا مَا فِي بُطُونِ هَـٰذِهِ الْأَنْعَامِ خَالِصَةٌ لِّذُكُورِنَا وَمُحَرَّمٌ عَلَىٰ أَزْوَاجِنَا ۖ وَإِن يَكُن مَّيْتَةً فَهُمْ فِيهِ شُرَكَاءُ ۚ سَيَجْزِيهِمْ وَصْفَهُمْ ۚ إِنَّهُ حَكِيمٌ عَلِيمٌ ﴿١٣٩﴾

“Dan mereka mengatakan, ‘Apa yang dalam perut binatang itu adalah khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami,’ dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya.” (Al-An’am: 139)

Dan firman-Nya lagi:

مَا جَعَلَ اللَّهُ مِن بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ ۙ وَلَـٰكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ ﴿١٠٣﴾

“Allah sekali-kali tidak pernah mensyari’atkan adanya bahiirah, saa’iba, wasiilah, dan ham.” (al-Ma’idah: 103)

Imam Bukhari mengatakan dari Sa’id bin Musayyab, “Bahiirah adalah unta yang susunya dilindungi untuk para thaghut, sehingga tidak ada seorang pun yang memeras susunya. Saaibah adalah unta yang mereka telah mempersembahkan unta itu untuk sembahan-sembahan mereka, dan mereka tidak menggunakannya untuk mengangkut sesuatu.” Washiilah adalah unta betina yang dilahirkan oleh induknya sebagai anak pertama, setelah itu anak ke dua betina juga, maka mereka mempersembahkannya kepada thaghut-thaghut mereka, jika di antara keduanya tidak diselingi oleh jenis jantan. Al-haam adalah unta jantan yang telah berhasil mengawini unta betina beberapa kali. Setelah selesai mengawinkannya, maka unta jantan itu dipersembahkan kepada para thaghut. Mereka membebaskannya dari membawa beban, sehingga unta itu tidak dibebani dengan beban apa pun, mereka menyebutnya al-haamy.

Inilah bid’ah yang merupakan bagian dari kekufuran, yakni bid’ah yang dilakukan oleh masyarakat jahiliyah.

Di antara bagian dari bid’ah kekufuran yang lain adalah bid’ahnya orang munafik yang menjadikan agama sebagai alat untuk melindungi harta dan jiwa mereka, serta perbuatan kekufuran lainnya.

Di samping bid’ah kufur, ada juga jenis bid’ah lainnya yakni bid’ah yang merupakan kemaksiatan akan tetapi tidak sampai pada derajat kekufuran. Yang termasuk ke dalam jenis bid’ah ini adalah bid’ahnya Khawarij, Qadariyah, Murji’ah, dan kelompok-kelompok sesat lainnya.

Di samping itu semua, ada juga jenis bid’ah yang hukumnya makruh, sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Malik. Di antara contoh bid’ah ini adalah membaca Al-Qur’an dengan idarah (berputar), berkumpul untuk berdoa pada pagi hari Arafah, dan lain sebagainya.

Di karenakan beragamnya hukum bid’ah ini, maka kita dapat memakluminya sehingga kita dapat berhati-hati agar kita tidak tergesa-gesa melontarkan kata-kata yang tidak baik tanpa kita mengeceknya terlebih dahulu secara teliti.

Itulah hukum bid’ah menurut Imam Asy-Syathibi. Sementara menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, bahwa hukum bid’ah merupakan bagian dari kemaksiatan yang posisinya berada satu tingkat di bawah kekufuran dan satu tingkat di atas dosa besar sehingga betapa beratnya dosa bid’ah yang dikhawatirkan pelakunya terjerumus kepada kekufuran. Wallahu a’lam

Beberapa Kaidah

Meski bid’ah merupakan suatu kemaksiatan yang berada satu tingkat di bawah kekufuran, akan tetapi akhlak bagi seorang muslim terhadap muslim lainnya—jika pelaku bid’ah tersebut merupakan seorang muslim–adalah tidak mencela, tidak melontarkan kata-kata yang tidak baik, akan tetapi senantiasa melakukan amar ma’ruf nahyi mungkar terhadap pelaku bid’ah tersebut dengan cara-cara yang terbaik. Karenanya, Ibnu Taimiyah telah membangun kaidah-kaidah penilaiannya terhadap ahli bid’ah menurut manhaj salaf, imam-imam ilmu pengetahuan dan petunjuk.  Di antara kumpulan manhaj yang digunakan oleh beliau dalam merumuskan kaidah-kaidah penilaiannya terhadap ahli bid’ah yang tampil terukur, jelas dan rinci adalah:

  1. Memaklumi (mentolelir) orang-orang shalih dan utama yang terjerumus ke dalam bid’ah akibat dari ijtihad dan memaknai ucapan mereka yang multi tafsir dengan tafsir yang paling baik.
  2. Tidak menganggap dosa seorang mujtahid yang melakukan kekeliruan, baik dalam masalah ushul maupun furu’. Dan, lebih dari itu, tidak menganggapnya kafir atau fasiq.
  3. Mentolelir seorang yang berbuat bid’ah tidak berarti mengakui bid’ah yang ditampilkannya atau memperbolehkannya mengikutinya, melainkan harus dilakukan penolakan terhadapnya dengan cara yang diperbolehkan dan menjaga etika dalam hal tersebut.
  4. Tidak memvonis orang yang terjatuh ke dalam bid’ah sebagai ahlul ahwaa’ wal bida’, juga tidak boleh memusuhinya karenanya, kecuali apabila bid’ah tersebut tergolong popular dan berkadar berat menurut para ulama Sunnah.
  5. Tidak boleh memastikan bahwa seseorang yang melakukan pelanggaran dalam masalah aqidah atau lainnya adalah orang yang celaka, atau bahwa kelompok tertentu adalah salah satu dari 72 golongan yang sesat, kecuali apabila pelanggaran itu tergolong berat.
  6. Berhati-hati terhadap hal-ihwal orang tertentu yang melakukan sesuatu yang bisa menyebabkan kekufuran atau kefasiqan, sebelum menjatuhkan vonis kafir atau fasiq kepadanya. Karena seseorang tidak boleh dijatuhi vonis kafir atau fasiq kecuali setelah dilakukan penegakkan hujjah terhadapnya.
  7. Konsisten terhadap upaya meluluhkan hati, menyatukan kata, dan mendamaikan pihak-pihak yang bersengketa, dan berusaha menghindari agar perbedaan pendapat dalam masalah-masalah furu’, baik dalam bidang aqidah maupun syari’ah, agar tidak menjadi penyebab putusnya tali persaudaraan di antara umat Islam, dan hilangnya loyalitas di antara mereka.
  8. Bersikap adil dalam menyebutkan pujian dan kecaman terhadap ahli bid’ah, menerima kebenaran yang mereka miliki dan menolak kebatilan yang ada pada diri mereka. Itulah jalan yang ditempuh oleh umat yang tengah-tengah.
  9. Memperhatikan syarat-syarat amar ma’ruf nahi munkar dalam memerintahkan sunnah dan melarang bid’ah, serta menentukan skala prioritas mengenainya.
  10. Disyari’atkan untuk memberikan sanksi kepada orang yang mendakwahkan bid’ah dengan hukuman yang bisa memberikan efek jera, mendidik dan maslahat, karena bahaya penularannya kepada orang lain. Sebaliknya, orang yang merahasiakannya, secara lahiriah, bisa diterima dan secara batiniah diserahkan (urusannya) kepda Allah.
  11. Adalah sah mengerjakan shalat di belakang ahli bid’ah, jika tidak mungkin mengerjakannya di belakang ahli ittiba’. Dan jika hal itu mungkin dilakukan, maka masalah ini menjadi kontroversi di kalangan ahli ilmu.
  12. Taubat orang yang mendakwahkan bid’ahnya bisa diterima.

Itulah beberapa kaidah yang telah ditetapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah agar kita terhindar dari ketergesaan membid’ahkan seseorang, tanpa melakukan cek dan ricek terlebih dahulu sehingga jelas sejelas matahari bahwa orang tersebut layak dihukumi sebagai ahli bid’ah karena telah melakukan bid’ah dengan sebenar-benarnya.

Sementara Imam Syahid Hasan Al-Banna telah menetapkan dua kaidah yang ia tetapkan dalam ushul isyirin dalam upaya pendekatan terhadap umat agar kita dapat membangun keutuhan umat secara kokoh. Diantara kedua kaidah tersebut adalah:

  1. Setiap bid’ah dalam agama Allah yang tidak ada pijakannya tetapi dianggap baik oleh hawa nafsu manusia, baik berupa penambahan maupun pengurangan, adalah kesesatan yang wajib diperangi dan dihancurkan dengan sarana yang sebaik-baiknya, yang tidak justru menimbulkan bid’ah lain yang lebih parah.
  2. Perbedaan pendapat dalam masalah bid’ah idhafiyah bid’ah tarkiyah, dan iltizam terhadap ibadah mutlaqah (yang tidak ditetapkan, baik cara maupun waktunya), adalah perbedaan dalam masalah fiqh. Setiap orang mempunyai pendapatnya sendiri. Namun tidak mengapa jika dilakukan penelitian untuk mendapatkan hakikatnya dengan dalil dan bukti-bukti.

Dari ungkapan Imam Syahid di atas yang dituangkan dalam risalah al-fahmu yang memuat 20 prinsip yang penting bahwasannya ia (Imam Syahid) sangat paham terhadap persoalan bid’ah, baik dari segi konsepsi bid’ah itu sendiri hingga perdebatan di antara ulama mengenai bid’ah tersebut, macam dan bagaimana cara memberantasinya. Ia (Imam Syahid) mengatakan bahwasannya persoalan bid’ah yang tidak memiliki pijakan dalam syari’at dan dianggap baik oleh hawa nafsu merupakan kesesatan yang wajib diperangi. Akan tetapi cara memeranginya harus dengan upaya yang paling baik yang tidak menimbulkan bid’ah atau kemudharatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya, karena jika hal itu terjadi, maka pemberantasan bid’ah yang menimbulkan kemudharatan yang jauh lebih besar merupakan sesuatu yang dilarang oleh para ulama, begitupun oleh syari’at dalam fiqh amar ma’ruf nahyi mungkar.

Memberantas Perbuatan Bid’ah

Diantara cara yang bijaksana dalam memerangi dan memberantas bid’ah, menurut Abdullah bin Qasim Al-Wasyli, adalah dengan cara kebijaksanaan, argumentasi, pemahaman, teladan, diskusi yang baik, dan dengan metode yang tidak menimbulkan hal yang lebih buruk dari bid’ah yang harus diperangi itu. Cara dan sarananya bersifat fleksibel, tidak tetap, dan tidak kaku. Ia berubah-ubah sesuai dengan jenis kemungkaran, tingkat bahaya, waktu, tempat, lingkungan, dan orang-orang yang melakukannya.

Ia juga cara yang tidak mencela, terutama orang yang berijtihad lalu salah, apapun kesalahannya, terutama terhadap orang-orang yang dikenal baik dan shalih dalam hidupnya seperti para sahabat, imam madzhab, imam ahli hadits, dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka. Seperti Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan Muhammad bin Abdul Wahhab yang tidak pernah memvonis fasik, bid’ah, atau kafir kepada orang tertentu kecuali setelah ada bukti pasti atau mutawatir yang membuatnya fasik, bid’ah atau kafir.

Cara yang terbaik dalam memberantas kemungkaran tersebut yang telah digariskan oleh para ulama merupakan cara yang berlandaskan kepada sirah Nabi Muhammad SAW. Misalnya Rasulullah SAW membiarkan Ka’bah dengan bangunan jahiliah, tidak menghancurkan patung-patung di Makkah sebelum beliau menetap di Madinah dan sebelum penaklukkan Makkah.

Begitu pula yang telah dilakukan oleh Ibnu Taimiyah saat ia melewati sekawanan orang-orang Tartar yang sedang meminum khamr. Ia meminta para sahabatnya untuk tidak mengusik orang-orang Tartar tersebut karena jika mereka terusik maka akan menimbulkan kemudharatan yang jauh lebih besar dibandingkan hanya sekedar meminum khamr saja tanpa terusik. Jika mereka terusik, maka mereka bukan hanya meminum khamr saja, akan tetapi mereka pun akan melakukan pembunuhan pada orang-orang yang melewatinya. Dan inilah yang dikhawatirkan oleh Syaikhul Islam. Sementara jika mereka dibiarkan maka mereka hanya tertidur setelah mereka kekenyangan meminum arak.

Referensi

  1. ‘Abdus-Salam, Muhammad. (2008). Bid’ah-Bid’ah yang Dianggap Sunnah. Jakarta: Qisthi Press.
  2. Al-Hulabi, Ahmad bin Abdul Aziz. (2007). Dasar Membid’ahkan Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Surabaya: Pustaka Elba.
  3. Al-Qathani, Muhammad bin Sa’id. (2009). Al-Wala’ wal Bara’. Solo: Era Intermedia.
  4. Al-Wasyli, Abdullah bin Qasim. (2005). Syarah Ushul ‘Isyrin Menyelami Prinsip Hasan Al-Banna. Solo: Era Intermedia.
  5. Asy-Syathibi. (2006). Al-Itisham. Jakarta: Pustaka Azzam.
  6. Katsir, Ibnu. (2008). Tafsir Ibnu Katsir. Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i.
  7. Jauzy, Ibnu. (2005). Perangkap Syaithan. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.


[1] Namun jika beralasan untuk tujuan pengobatan bagi orang sakit, maka meninggalkan perbuatan hukumnya wajib. Namun jika kita hanya beralasan untuk pengobatan, maka meninggalkannya hukumnya mubah. (Imam asy-Syathibi, Al-I’tisham)