1. Memaklumi  (mentolelir) orang-orang shalih dan utama yang terjerumus ke dalam bid’ah akibat dari ijtihad, dan memaknai ucapan mereka yang multi tafsir dengan tafsir yang paling baik.
  2. Tidak menganggap dosa seorang mujtahid yang melakukan kekliruan, baik dalam masalah ushul maupun furu’. Dan, lebih dari itu, tidak menganggap kafir atau fasiq.
  3. Mentolelir seorang yang berbuat bid’ah tidak berarti mengakui bid’ah yang ditampilkannya atau memperbolehkan mengikutinya, melainkan harus dilakukan penolakan terhadapnya dengan cara yang diperbolehkan dan menjaga etika dalam hal tersebut.
  4. Tidak memvonis orang yang terjatuh ke dalam bid’ah sebagai ahlul ahwaa’ wal bida’ (orang yang suka mengikuti hawa nafsu dan bid’ah), juga tidak boleh memusuhinya karenanya, kecuali apabila bid’ah tersebut tergolong popular dan berkadar berat menurut para ulama Sunnah.
  5. Tidak boleh memastikan bahwa seseorang yang melakukan pelanggaran dalam masalah aqidah atau lainnya adalah orang yang celaka, atau bahwa kelompok tertentu adalah salah satu dari 72 golongan yang sesat, kecuali apabila pelanggaran itu tergolong berat.
  6. Berhati-hati terhadap hal ihwal oang tertentu yang melakukan sesuatu yang bisa menyebabkan kekufuran atau kefasiqan, sebelum menjatuhkan vonis kafir atau fasiq kepadanya. Karena seseorang tidak boleh dijatuhi vonis kafir atau fasiq kecuali setelah dilakukan penegakan hujjah terhadapnya.
  7. Konsisten terhadap upaya meluluhkan hati, menyatukan kata, dan mendamaikan pihak-pihak yang bersengketa, dan berusaha menghindari agar perbedaan pendapat dalam masalah-masalah furu’, baik dalam bidang aqidah maupun syari’ah, agar tidak menjadi penyebab putusnya tali persaudaraan di antara umat Islam, dan hilangnya loyalitas di antara mereka.
  8. Bersikap adil dalam menyebutkan pujian dan kecaman terhadap ahli bid’ah, menerima kebenaran yang mereka miliki dan menolak kebatilan yang ada pada diri mereka. Itulah jalan yang ditempuh oleh umat yang tengah-tengah (adil).
  9. Memperhatikan syarat-syarat amar ma’ruf nahyi munkar dalam memerintahkan Sunnah dan melarang bid’ah, serta menentukan skala prioritas mengenainya.
  10. Disyari’atkan untuk memberikan sanksi kepada orang yang mendakwahkan bid’ah dengan hukuman yang bisa memberikan efek jera, mendidik dan maslahat, karena bahaya penularannya kepada orang lain. Sebaliknya, orang yang merahasiakannya, secara lahiriah, bisa diterima dan secara bathiniah diserahkan (urusannya) kepada Allah SWT.
  11. Adalah sah mengerjakan shalat di belakang ahli bid’ah, jika tidak mungkin mengerjakannya di belakang ahli ittiba’. Dan jika hal itu mungkin dilakukan, maka masalah ini menjadi kontroversi di kalangan ahli ilmu.
  12. Taubat orang yang mendakwahkan bid’ahnya bisa diterima.

Sumber

Dr. Ahmad bin Abdul Aziz Al-Hulaibi, et al. (2007). Dasar Membid’ahkan Orang Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Surabaya: Pustaka Elba. Hlm. 85-194.