Kaidah Imam Abu Hanifah (150 H)

Tidak boleh seseorang mengikuti pendapat kami sebelum mengetahui dari mana kami mengambilnya.

Haram bagi yang tidak mengetahui dalil saya kemudian memberi fatwa dengan kata-kata saya, karena saya adalah manusia biasa yang sekarang bicara sesuatu dan besok tidak bicara itu lagi.
Jika saya mengucapakan pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka tinggalkanlah perkataan saya.
Ibnu Abidin berkata dalam bukunya : “Jika hadits itu shahih dan bertentangan dengan madzhab, maka hadits-lah yang dipakai dan itulah madzhabnya (Imam Abu Hanifah), dan dengan mengikuti hadits itu, tidak berarti penganutnya telah keluar dari pengikut hanafi. Diriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa beliau pernah berkata : “Jika hadits itu benar, maka itulah madzhab saya.”
Kaidah Imam Malik (179 H)
Sesungguhnya saya adalah manusia biasa yang bisa salah dan bisa benar. Maka perhatikan secara kritis pendapatku, yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah ambillah, dan setiap pendapat yang tidak sesuai dengan kitab dan sunnah tinggalkanlah.
Setiap orang sesudah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bisa diambil ucapannya dan bisa ditinggalkan, kecuali Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kaidah Imam Syafi’i (204 H)
Setiap orang ada yang pendapatnya sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW dan ada yang tidak sesuai. Jika saya berkata dengan suatu pendapat atau berdasarkan sesuatu pendapat dari Rasulullah SAW tapi kenyataannya bertentangan dengan ucapan Rasulullah SAW maka pendapat yang benar adalah ucapan Rasulullah SAW dan itulah pendapat saya.
Orang-orang Islam telah melakukan Ijma’ bahwa barangsiapa yang jelas mempunyai dalil berupa sunnah Rasulullah SAW maka tidak dihalalkan bagi seorangpun untuk meninggalkannya karena ucapan orang lain.
Jika kamu mendapatkan hal-hal yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW dalam buku saya maka ikutilah ucapan Rasulullah SAW dan itu adalah pendapat saya juga.
Jika suatu hadits itu shahih, maka itulah madzhab saya.
Beliau berkata kepada Imam Ahmad bin Hambal : “Anda lebih pandai dari saya tentang hadits dan keadaan para periwayatnya, jika anda tahu bahwa sesuatu hadits shahih maka beritahukanlah kepada saya sehingga saya akan berpendapat dengan hadits itu.”
Setiap masalah, yang mempunyai dasar hadits shahih menurut para ahli hadits, dan bertentangan dengan pendapat saya maka saya akan kembali pada hadits tersebut selama hidup saya atau sesudah mati.
Kaidah Imam Ahmad bin Hambal
Jangan engkau bertaklid (ikut-ikutan) kepadaku atau Imam Malik atau Imam Syafi’I atau Imam Auza’y atau Imam Ats-Tsauri tapi ambillah dari mana asal mereka mengambil.
Barangsiapa menolak hadits Rasulullah SAW, maka dia berada di tepi kehancuran.