Oleh: D. Hamdani

 

Beberapa Bahasan

 

  • Apakah hakikat Sijjin dan ‘Illiyyin itu?
  • Apakah Sijjin itu suatu kitab yang berisi catatan amal (bagi orang-orang kafir) ataukah suatu tempat pada lapisan bumi yang ketujuh yang diperuntukkan bagi orang-orang kafir setelah kematian mereka?
  • Apakah ‘Illiyyin itu suatu kitab yang berisi catatan amal (bagi orang-orang mukmin) ataukan suatu tempat pada lapisan langit yang ketujuh yang diperuntukkan bagi orang-orang mukmin setelah kematian mereka?
  • Dimanakah ruh menetap setelah kematian pada saat di alam barzakh, di Sijjin atau ‘Illiyyin, ataukah di bumi (baca: kuburan)?

 

Kondisi Ruh Mukmin dan Kafir pada Saat Kematian

 

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya, Ibnu Hibban dan Abu Uwanah Al-Asfarayini dalam Shahih-nya masing-masing hadits Minhal dari Zadan, dari Mughirah bin Azib RA yang berkata:

 

“Kami pernah bersama Rasulullah SAW mengantar jenazah. Beliau duduk di atas kuburan dan kami duduk di sebelahnya. Sepertinya di atas kepala kami terdapat burung. Sambil menguburkan jenazah tersebut beliau berkata, ‘Aku berlindung diri kepada Allah dari siksa kubur.’ Hingga tiga kali. Kemudian bersabda, ‘Sesungguhnya orang beriman, jika akan pindah ke alam akhirat dan meninggal dunia, maka para malaikat turun kepadanya. Wajah mereka seperti matahari dan setiap dari mereka membawa wewangian dari surga dan kain kafan. Mereka duduk di dekat orang beriman sebatas pandangan kemudian malaikat pencabut nyawa duduk di dekat kepalanya dan berkata, ‘Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan dari Allah.’ Kata Rasulullah SAW, ‘Ruh orang beriman pun keluar dari dalam jasadnya seperti halnya air keluar dari mulut teko. Malaikat pencabut nyawa segera mengambilnya. Ketika ruh orang beriman telah berada dalam genggamannya, para malaikat yang lain tidak membiarkan ruh orang beriman berada di tangan malaikat pencabut nyawa sekejap mata hingga kemudian mereka mengambilnya dari padanya dan menaruhnya di atas kafan surga dan di wewangian tersebut. Dari ruh orang beriman, keluarlah wewangian yang sangat harum yang pernah ada di bumi.’ Kata Rasulullah SAW, ‘Kemudian para malaikat naik membawa ruh orang beriman dan setiap kali mereka melewati para malaikat, maka mereka bertanya, ‘Ruh siapa yang harum ini?’ Mereka menjawab, ‘Ruh ini adalah ruh Fulan bin Fulan,’ sembari menyebutkan namanya yang paling baik di dunia hingga kemudian mereka berhenti di langit dunia. Mereka meminta dibukakan bagi ruh tersebut, kemudian pintu dibukakan untuknya. Ruh tersebut disambut seluruh makhluk yang ada di langit dan mereka mendekatkan ruh tersebut ke langit berikutnya hingga mereka dengannya tiba di langit yang ada Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berkata, ‘Tulislah kitab hambaku ini di ‘Illiyyin dan kembalikan ia ke dunia. Sesungguhnya dari bumi aku menciptakan mereka kemudian mengembalikan mereka dan mengeluarkan kembali untuk kedua kalinya,’ Kata Rasulullah SAW lebih lanjut, ‘Lalu ruh orang yang beriman dikembalikan ke dalam jasadnya semula. Tidak lama kemudian datanglah kepadanya dua malaikat yang kemudian duduk di sebelahnya dan bertanya kepadanya, ‘Siapa Tuhanmu?’ Orang tersebut menjawab, ‘Tuhanku adalah Allah.’ Kedua malaikat tersebut bertanya lagi, ‘Apa agamamu?’ Orang tersebut menjawab, ‘Agamaku adalah Islam.’ Kedua malaikat tersebut bertanya, ‘Siapa lelaki ini yang telah diutus kepada kalian?’ Orang tersebut menjawab, ‘Dia adalah Rasulullah SAW.’ Kedua malaikat bertanya lagi, ‘Apa saja yang engkau ketahui?’ Orang tersebut menjawab, ‘Saya membaca Al-Qur’an kemudian beriman kepadanya dan membenarkannya.’ Kata Rasulullah SAW, ’Lalu terdengar dari penyeru dari langit menyeru, ‘Hamba-Ku ini benar. Hamparkan untuknya surga dan berilah pakaian dari surga serta bukalah satu pintu surga baginya.’ Kata Rasulullah SAW lagi, ‘Lalu didatangkan kepadanya aroma surga dan kuburnya diperluas sepanjang penglihatannya.’ Kata Rasulullah SAW, ‘Lantas dating kepada orang beriman lelaki tampan, pakaiannya bagus dan beraroma harum dan berkata, ‘Saya kabarkan kepadamu berita yang menyenangkanmu bahwa hari ini adalah hari yang pernah dijanjikan kepadamu.’ Orang beriman bertanya, ‘Siapakah kamu, wajahmu benar-benar mendatangkan kebaikan?’ Lelaki tersebut menjawab, ‘Saya adalah amal perbuatanmu yang baik.’ Orang beriman berkata, ‘Tuhanku, segerakan Hari Kiamat! Segerakan Hari Kiamat agar aku bias bertemu dengan keluargaku dan hartaku.’ Kata Rasulullah SAW lebih lanjut.’ Dan sesungguhnya orang kafir, jika akan meninggal dunia dan menuju kepada akhirat, maka para malaikat turun kepadanya dari langit dengan wajah yang hitam dan membawa kain kafan kasar lalu duduk di dekatnya sebatas pandangan. Malaikat pencabut nyawa datang kepadanya dan duduk di dekat kepalanya lantas berkata, ‘Wahai ruh yang kotor, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan dari Allah!’ Lalu ruhnya berpisah dari jasadnya dan malaikat mencabutnya seperti besi pembakar dicabut dari wol yang basah. Kemudian malaikat pencabut nyawa mengambilnya dan kalau sudah ia ambil, maka para malaikat yang lain tidak membiarkan ruh tersebut di tangannya sekejap mata hingga kemudian mereka meletakkannya di dalam kain kasar tadi. Daripadanya keluar bau busuk yang pernah ada di dunia. Para malaikat membawanya naik dan setiap kali mereka melewati malaikat, mereka bertanya, ‘Ruh yang bau busuk ini milik siapa?’ Para malaikat menjawab, ‘Ini adalah ruh si Fulan bin Fulan,’ sembari menyebutkan namanya yang paling jelek di dunia hingga mereka terhenti di langit dunia. Para malaikat meminta kepada malaikat penjaga pintu langit agar pintu langit dibuka untuk ruh orang kafir ini. Namun malaikat penjaga langit tidak mau membuka pintu langit bagi ruh orang kafir tersebut.’ Kemudian Rasulullah SAW membaca ayat, ‘Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.’[1]Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Tulislah kitabnya di Sijjin di bumi dan ruhny dicampakkan begitu saja.’ Lalu Rasulullah SAW membaca ayat, ‘Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angina ke tempat yang jauh.’[2]Kemudian meneruskan dengan sabdanya, ‘Kemudian ruhnya dikembalikan ke jasadnya dan tidak lama setelah itu datang dua malaikat dan bertanya, ‘Siapa Tuhanmu?’ Orang kafir menjawab, ‘Ha… ha…, aku tidak tahu!’ Dua malaikat bertanya lagi, ‘Siapa orang ini yang diutus kapadamu?’ Orang kafir menjawab, ‘Ha… ha…, aku tidak tahu!’ Penyeru dari langit menyeru, ‘Hambaku ini bohong, maka hamparkan baginya hamparan dari neraka dan bukakan baginya salah satu pintu nereka!’ Lalu hawa panas nereka dan racunnya datang kepadanya. Kuburnya mendesaknya hingga tulangnya berserakan. Setelah itu, datanglah kepadanya lelaki dengan wajah yang jelek, pakaiannya jelek dan berbau busuk lalu berkata, ‘Saya membawa kabar yang tidak mengenakkanmu. Inilah hari yang dulu dijanjikan kepadamu!’ Orang kafir bertanya, ‘Siapakah Anda? Wajahmu benar-benar membawa kejelekan!’ Lelaki tersebut menjawab, ‘Saya adalah amal perbuatanmu yang buruk.’ Orang kafir berkata, ‘Tuhanku jangan adakan Hari Kiamat!’[3]

 

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Ar-Ruh—berkenaan dengan ruh orang beriman yang dibawa ke langit ke tujuh oleh malaikat kemudian dicatat di ‘Illiyyin, sedangkan ruh orang kafir dicatat di Sijjin—mengatakan bahwasannya kondisi ruh tersebut setelah dihadapkan kepada Rabb-Nya kemudian Allah memutuskan perkaranya dan dituliskan kitabnya, sehingga ia termasuk golongan ‘Illiyyin ataukah Sijjin. Kemudian ruh tersebut kembali ke kubur untuk menghadapi pertanyaan malaikat, lalu kembali ke tempat yang telah disediakan baginya. Maka ruh orang-orang mukmin di ‘Illiyyin, tergantung pada tingkatan masing-masing, sedangkan ruh orang-orang kafir berada di Sijjin, tergantung pada tingkatan masing-masing.[4]

 

Firman Allah SWT tentang Sijjin

 

Allah SWT berfirman dalam menyifati orang-orang yang durhaka:

 

“Sekali-kali jangan begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar tersimpan dalam Sijjin. Dan taukah engkau apakah Sijjin itu? (Yaitu) kitab yang berisi catatan (amal). Celakah pada hari itu, bagi orang-orang yang mendustakan! (At-Tatfif, 83: 7-9)

 

Istilah Sijjin

 

Kata Sijjin berasal dari kata As-Sijnu yang artinya Adh-Dhayyiqu yaitu sempit. Kata As-Sijnu (sempit) kemudian berubah menjadi Sijjin yang maknanya amat sempit.

 

Beberapa Pendapat tentang Sijjin

 

Sebagian orang berpendapat bahwa Sijjin merupakan tempat di lapisan bumi yang paling bawah (lapisan ketujuh). Adapula yang berpendapat bahwa Sijjin adalah batu besar dan keras berwarna hijau yang berada di lapisan bumi paling bawah (lapisan ketujuh). Sebagaiannya lagi berpendapat bahwa Sijjin adalah sumur di Neraka Jahannam.

 

Pendapat yang benar tentang Sijjin adalah, karena Sijjin berasal dari kata As-Sijnu (baca: Adh-Dhayyiqu—sempit), maka maknanya adalah lapisan bumi yang paling bawah (lapisan yang ketujuh). Hal ini dikarenakan seandainya semua makhluq turun ke bawah menuju lapisan bumi ketujuh, maka ia akan merasakan semakin sempit yang berbeda dengan lapisan-lapisan yang di atasnya (yang semakin luas). Oleh karena itu, Allah menyebutkan tempat kembali orang-orang yang durhaka adalah Neraka Jahannam, yaitu tempat yang paling rendah, sebagaiman firman Allah SWT[5]:

 

“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang beriman dan mengerjakan amal shalih.” (At-Tin, 95: 5-6)

 

Sijjin adalah tempat yang sempit dan paling bawah, sebagaimana firman Allah SWT:

 

“Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.” (Al-Furqan, 25: 13)

 

Ibnu Abbas bertanya kepada Ka’ab tentang Sijjin, lalu Ka’ab menjawab, “Itu adalah lapisan bumi yang ketujuh yang di dalamnya terdapat ruh-ruh orang-orang kafir.”

 

***

 

Allah SWT berfirman:

 

“Taukah kamu apakah Sijjin itu?” (At-Tatfif, 83: 8)

 

Berkenaan dengan ayat ini, Ibnu Katsir mengatakan bahwasannya ia bukanlah suatu pertanyaan, melainkan sebuah berita bahwa Sijjin adalah perkara yang amat besar, tempat tinggal yang amat sempit, dan siksaan yang amat pedih.[6]

 

Dan firman-Nya:

 

“Kitab yang tertulis.” (At-Tatfif, 83: 9)

 

Muhammad bin Kaab Al-Qurzhi mengatakan, ayat ini bukanlah keterangan dari ayat sebelumnya yang menerangkan arti Sijjin, melainkan keterangan yang telah ditulis (ditetapkan) untuk mereka, bahwa tempat kembali mereka adalah Sijjin, yang telah tertulis bahwa jalan bagi orang-orang yang durhaka adalah Sijjin dan ketentuan ini telah ditetapkan serta tidak seorang pun yang bisa merubah, menambah, atau menguranginya.[7]

 

***

 

Firman Allah SWT tentang ‘Illiyyin

 

Firman-Nya dalam menyifati orang-orang yang berbakti kepada-Nya:

 

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyin. Dan taukah engkau apakah ‘Illiyyin itu? (Yaitu) kitab yang berisi catatan (amal), yang disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan (kepada Allah). Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan.” (At-Tatfif, 83: 18-22)

 

Istilah ‘Illiyyin

 

Kata ‘Illiyyin diambil dari kata Al-‘Ulwu yang artinya yang tinggi. Setiap sesuatu yang bertambah tinggi maka tempat sesuatunya itu akan bertambah luas. Oleh karena itu Allah berfirman untuk memberitakan bahwa perkara-perkara ini amat besar, “Taukah engkau apakah ‘Illiyyin itu?”. Kemudian Allah SWT menguatkan kembali perkara-perkara yang telah ditetapkan itu pada mereka dengan firman-Nya, “(Yaitu) kitab yang berisi catatan (amal).” Artinya bahwasannya ketetapan orang-orang yang berbakti berada dalam ‘Illiyyin adalah suatu ketetapan yang telah ditetapkan atau tertulis dalam ketetapan (kitab) Allah.

 

Beberapa Pendapat tentang ‘Illiyyin

 

Ibnu Abbas bertanya kepada Ka’ab tentang ‘Illiyyin, maka Ka’ab menjawab, “Itu adalah lapisan langit ketujuh yang di dalamnya terdapat ruh-ruh orang-orang beriman.”

 

Ali bin Abi Thalib berkata: Dari Ibnu Abbas, tentang firman Allah, “Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyin.”[8] Maksudnya adalah surga.

 

Adh-Dhahak, begitu pula dengan Al-‘Aufa dari Ibnu Abbas mengatakan bahwasannya maksud firman Allah tersebut adalah amal perbuatan orang-orang yang berbakti tersimpan di langit, di sisi Allah.[9]

 

Qatadah berkata bahwasannya ‘Illiyyin adalah ‘Arsy atau singgasana Allah bagian kanan. Ulama lain berpendapat bahwa ‘Illiyyin terdapat di Sidratul Muntaha.

 

Wallahu’alam.

 

 

Pustaka Acuan

 

  1. DepagRI. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Bandung: PT Syaamil Cipta Media.
  2. Ibnu Katsir. 2007. Tafsir Juz ‘Amma. Jakarta: Pustaka Azzam.
  3. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah. 2006. Tamasya ke Surga. Jakarta: Darul Falah.
  4. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah. 2007. Roh. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.


[1] QS. Al-A’raf: 40.

[2] QS. Al-Hajj: 31.

[3] Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Tamasya ke Surga, . Hlm. 82-87.

[4] Ibnul Qayyim Al-Jauziyah,  Roh. Hlm. 187.

[5] Ibnu Katsir, Tafsir Juz Amma, Hal. 97.

[6] Ibid.Hal. 96.

[7] Ibid. Hal. 98.

[8] QS. At-Tatfif, 83: 18.

[9] Ibid.