Tentang ilmu fisika, ia berkata, “Benar, dalam hal-hal fisika mereka mempunyai perkataan yang sebagian besarnya adalah baik. Perkataan yang banyak lagi luas. Mereka mempunyai akal yang dengannya mereka jadi dikenal. Terkadang mereka bermaksud kebenaran dan tidak menampakkan pembangkangan. Mereka mempunyai pengetahuan yang baik tentang hal-hal fisika. Ini adalah lautan ilmu mereka, untuknya mereka menyediakan diri dan padanya mereka menghabiskan waktu.” [1]

 

Tentang ilmu matematika ia berkata, “Hal-hal ini dan yang semisalnya yang termasuk dalam kategori ilmu hitung adalah perkara yang rasional. Semua orang yang berakal pasti memerlukannya. Tidak ada seorang pun dari manusia kecuali dia harus mengenalnya, paling tidak sedikit (sesuai yang dibutuhkan). Sebab itu adalah hal yang tidak bisa dielakkan dalam ilmu dan dalam pekerjaan.”[2]

 

Tentang filsafat ketuhanan, ia berkata, “Dalam masalah ketuhanan, mereka adalah manusia yang bodoh, dan jauh dari mengenal yang haq. Buktinya, perkataan aristoteles  tentang masalah ini sangat sedikit dan itu pun banyak yang salah.”[3]

 

Ia berkata, “Tentang pengenalan kepada Allah, pengetahuan mereka sangatlah sedikit sekali. Begitu pula pengenalan kepada para malaikat, kitab-kitab, dan para rasul, sama sekali mereka tidak mengenal semua itu dan tidak pernah berbicara tentangnya, baik menyatakan ada atau tidak ada. Yang berbicara tentang hal itu hanya para ahli yang datang kemudian dan mempelajari perbandingan agama.”[4]

 

“Bahkan para filsuf besar menegaskan bahwa dalam ilmu ketuhanan tidak ada cara untuk mencapai keyakinan padanya, sebab tentang hal itu harus berbicara dengan dalil yang akurat, sementara mereka tidak punya kecuali sangkaan belaka.”[5]

 

“Bila memperhatikan kepada perkataan guru pertama mereka—Aristoteles—dan direnungi oleh orang yang berakal, niscaya tidak akan membawa kepada kesimpulan kecuali bahwa mereka adalah makhluk yang paling tidak tahu dengan Tuhan semesta alam. Dia juga akan sangat heran terhadap orang yang membandingkan ilmu ketuhanan mereka dengan apa yang dibawa oleh para nabi. Dia akan melihat bahwa ini termasuk membandingkan antara tukang besi dengan malaikat (perbandingnya jauh sekali).”[6]

 

Ia juga berkata, “Adapun tentang apa yang dibawa oleh para nabi,mereka sama sekali tidak mengetahuinya, mendekati pun tidak. Bahkan orang-orang kafir Yahudi dan Nasrani lebih tahu dengan perkara-perkara ketuhanan dibandingkan mereka.[7]

 

Dia juga berkata, “Adapun tentang hal-hal ghaib yang dikabarkan oleh para nabi, dan kaidah-kaidah umum yang mencakup pemahaman secra benar terhadap segala yang ada, maka mereka sama sekali tidak mengetahuinya.”[8]

Ia juga berkata, “Para filsuf Yunani kuno adalah orang-orang kafir, termasuk manusia yang paling besar kemusyrikannya. Mereka menyembah bintang dan berhala.”[9]

 

Ia juga berkata, “Filsafat yang dijalani oleh Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, As-Sharudi dan lain-lain adalah filsafat pengikut Aristoteles, yakni dinukil dari Aristoteles yang mereka sebut dengan guru pertama.”[10]


[1] Syaikh Dr. Said Abdul Azhim. (2005). Ibnu Taimiyah: Pembaruan Salafi dan Dakwah Reformasi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Hal. 58.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Ibid. hal 58-59.

[6] Ibid. hal. 59.

[7] Ibid.

[8] Ibid.

[9] Ibid.

[10] Ibid.