Oleh: Ust. Farid Nu’man

Banyak pertanyaan kepada kami mengenai ini, baik melalui sms atau email. Terkait adanya Partai Islam yang
mencalonkan Non Muslim sebagai Caleg (Calon Anggota Legislatif) dari partai Islam tersebut. Yang perlu ditekankan adalah tentunya caleg non muslim tersebut wajib mengakui asas Islam dan platform partai Islam tersebut. Apakah hal keberadaan mereka untuk membantu perjuangan Partai Islam dibenarkan syariat? Ataukah ini hal yang sifatnya
situasional dan bisa berlaku bagi daerah tertentu, daerah yang minim umat Islam dan juga lemah keadaannya
seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur, namun tidak boleh bagi daerah lain yang umat Islam adalah mayoritas dan
kuat, seperti pulau Jawa dan Sumatera?

Debatable Sejak Lama …

Sebenarnya masalah ini bukan permasalahan baru, tetapi sudah terjadi sejak lama; yakni bolehkah dalam perjuangan
umat Islam dengan memanfaatkan bantuan orang kafir, baik bantuan dana, persenjataan, atau partisipasi langsung
jiwa raga mereka dalam barisan umat Islam.

Dahulu, awal tahun 90-an, pasca serangan Irak ke Kuwait, yang akhirnya melahirkan perang teluk pertama, para
ulama di kerajaan Arab Saudi memfatwakan bolehnya meminta bantuan Amerika Serikat (saat itu dipimpin oleh
George Bush Senior) yang nota bene kafir untuk melawan keberingasan Saddam Husein, seorang Sosialis Aktifis
Partai Ba’ts Irak, yang didirikan oleh Michael Aflaq, seorang Kristen. Mereka menganggap Saddam Husein sudah
bukan lagi muslim, baik karena kekejamannya kepada umat Islam Kurdi dan semua lawan politiknya, dan juga karena ideologinya yang Sosialis. Kekafiran Saddam Husein difatwakan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Syaikh
Said Hawwa (Siria), Syaikh Abdullah ‘Azzam (Al Filisthini tsumma Al Urduni), dan lainnya. Sederhananya adalah
memanfaatkan kekuatan orang kafir untuk melawan orang kafir lainnya, karena keadaan diri yang masih lemah.
Fatwa ini, bukan berarti tanpa kritik. Para ulama Arab Saudi sendiri mengkritiknya, khususnya dari para ulama
muda semisal Syaikh Salman Fahd Al ‘Audah (Wakil Ketua Ikatan Ulama Muslimin Sedunia yang diketuai oleh Syaikh
Yusuf Al Qaradhawi) dan Syaikh ‘Aidh Al Qarny (pengarang kitab Laa Tahzan), yang karena kritikannya itu mereka
berdua di penjara oleh pihak Kerajaan. Kritikan juga datang dari Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani
Rahimahullah yang tidak menyetujui fatwa tersebut. Sebab, dari fatwa ini yang menjadi korban bukanlah AS dan
Saddam Husein dan tentaranya, tetapi rakyat Irak yang muslim. Merekalah yang mengalami penderitaan karena
kezaliman AS dan Saddam Husein saat itu.

Lebih lama lagi, gerakan Islam terbesar abad modern, Al Ikhwan Al Muslimun di Mesir pada masa Al Ustadz Syahidul
Islam Hasan Al Banna Rahimahullah juga pernah menempatkan seorang Kristen Koptik (Qibthy) sebagai wakil
mereka di palemen Mesir. Sejak jauh hari, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memang menyebutkan bahwa kaum
Koptik akan menjadi penolong perjuangan umat Islam.

Dari Ummu Salamah Radhiallahu ‘Anha, bahwa menjelang wafat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau
berwasiat:
ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻰ ﻗﺒﻂ ﻣﺼﺮ ﻓﺈﻧﻜﻢ ﺳﺘﻈﻬﺮﻭﻥ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﻴﻜﻮﻧﻮﻥ ﻟﻜﻢ ﻋﺪﺓ ﻭﺃﻋﻮﺍﻧًﺎ ﻓﻰ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ

Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah, dalam bergaul dengan kaum Qibthi Mesir. Sesungguhnya kalian akan
mengalahkan mereka, dan mereka akan menjadi kekuatan dan pertolongan bagi kalian dalam perjuangan fi sabilillah.
(HR. Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir, No. 561, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No.
34023)

Abdullah bin Yazid dan Amru bin Huraits, dan slainnya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ﺇﻧﻜﻢ ﺳﺘﻘﺪﻣﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﻗﻮﻡ ﺟﻌﺪ ﺭﺅﻭﺳﻬﻢ ﻓﺎﺳﺘﻮﺻﻮﺍ ﺑﻬﻢ ﺧﻴﺮﺍ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻗﻮﺓ ﻟﻜﻢ ﻭﺑﻼﻍ ﺇﻟﻰ ﻋﺪﻭﻛﻢ ﺑﺈﺫﻥ ﺍﻟﻠﻪ ـ ﻳﻌﻨﻲ ﻗﺒﻂ ﻣﺼﺮ ـ

Sesungguhnya kalian akan mendatangi kaum yang keriting kepalanya, maka berwasiatlah yang baik-baik dengan
mereka, karena mereka akan menjadi kekuatan bagimu, dan menjadi bekal bagimu untuk melawan musuh-musuhmu
dengan izin Allah. –yaitu kaum Qibthi Mesir. (HR. Abu Ya’la No. 1473, berkata Husein Salim Asad: para perawinya
tsiqaat (terpercaya).   Ibnu Hibban No. 6677)

Penolong kita adalah Allah, RasulNya, dan Orang-orang beriman

Inilah dasar bagi setiap orang beriman, tidak ragu lagi dan tidak diperdebatkan lagi, bahwa mereka menjadikan
Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman sebagai tempat memberikan  Al Wala. Itulah hizbullah yang dijanjikan
kemenangan oleh Allah Jalla wa ‘Ala. Al Wala bukan  kepada orang kafir, musyrik, munafiq, ahludh dhalal, dan
mubtadi’.

Allah Ta’ala berfirman:

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻭَﻟِﻴُّﻜُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟُﻪُ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﻘِﻴﻤُﻮﻥَ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻭَﻳُﺆْﺗُﻮﻥَ ﺍﻟﺰَّﻛَﺎﺓَ ﻭَﻫُﻢْ ﺭَﺍﻛِﻌُﻮﻥَ ) 55( ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَﻮَﻝَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻓَﺈِﻥَّ ﺣِﺰْﺏَ
ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻐَﺎﻟِﺒُﻮﻥَ )56 )

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat
dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). dan Barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan
orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, Maka Sesungguhnya pengikut (agama) Allah (hizbullah) Itulah yang
pasti menang. (QS. Al Maidah: 55-56)

Secara khusus, tidak pula memberikan Al Wala (loyalitas dan cinta) kepada Yahudi dan Nasrani, dan ini terlarang.

Allah Ta’ala berfirman:

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻟَﺎ ﺗَﺘَّﺨِﺬُﻭﺍ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩَ ﻭَﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀُ ﺑَﻌْﺾٍ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَﻮَﻟَّﻬُﻢْ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﺎ ﻳَﻬْﺪِﻱ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡَ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ )51 )

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-
pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu
mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al Maidah: 51)

Secara khusus, tidak pula memberikan Al Wala kepada orang-orang yang mempermainkan agama. Allah Ta’ala
berfirman:

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻟَﺎ ﺗَﺘَّﺨِﺬُﻭﺍ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍﺗَّﺨَﺬُﻭﺍ ﺩِﻳﻨَﻜُﻢْ ﻫُﺰُﻭًﺍ ﻭَﻟَﻌِﺒًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭَ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀَ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻣُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ
)57 )

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil Jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu
Jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu (Yakni Ahli Kitab),
dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang
yang beriman. (QS. Al Maidah: 57)

Apakah makna wali dalam ayat-ayat ini? Wali jamaknya adalah auliya’ yang berati penolong dan kekasih.  (Imam
Ibnu Jarir, Jami’ul Bayan, 9/319) Bisa juga bermakna teman dekat, yang mengurus urusan, yang mengusai
(pemimpin). (Ahmad Warson Al Munawwir, Kamus Al Munawwir, Hal. 1582)

Maka, jelaslah bahwa umat Islam tidak dibenarkan menjadikan orang kafir sebagai penolong, kekasih, teman dekat,
dan pemimpin mereka. Sebab wali kita hanyalah kepada Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman.
Bagaimana jika keadaan tidak normal; lemah dan masih sedikit

Bagaimana jika keadaan umat Islam masih sedikit (minoritas) -tentunya juga masih lemah- bolehkah meminta
bantuan mereka dalam sebagian urusan kaum muslimin? Tentunya dalam hal ini adalah Partai Islam di sana
memanfaatkan  non muslim sebagai wakilnya di parlemen mereka di sana? Sebab, jangankan mencari kadernya
sendiri, mencari orang Islam saja tidak mudah. Tentunya adalah sebuah prestasi tersendiri jika ada Partai Islam yang
mampu mengajak orang kafir untuk turut membantu perjuangan ideologi dan platform Partai Islam tersebut.
Bagaimana bisa seseorang yang tidak meyakini kerasulan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan tidak
mengakui kebenaran Islam, justru dengan sadar jatuh hati dan tertarik, lalu menawarkan dirinya ikut membantu
perjuangan Partai Islam?

Lalu, apakah ayat-ayat tentang larangan meminta bantuan kepada orang kafir tetap berlaku dalam keadaan lemah dan
minor seperti ini? Ataukah ini situasi yang dimaafkan dan dikecualikan?

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah melakukannya

Dalam proses perjalanan hijrah ke Madinah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar Ash Shiddiq
Radhiallahu ‘Anhu memanfaatkan jasa bantuan seorang dari Bani Ad Diil yang beragama kafir Quraisy sebagai
petunjuk jalan menuju Madinah.

‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha bercerita:

ﻭَﺍﺳْﺘَﺄْﺟَﺮَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻭَﺃَﺑُﻮ ﺑَﻜْﺮٍ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﻣِﻦْ ﺑَﻨِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳﻞِ ﻫَﺎﺩِﻳًﺎ ﺧِﺮِّﻳﺘًﺎ، ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠَﻰ ﺩِﻳﻦِ ﻛُﻔَّﺎﺭِ ﻗُﺮَﻳْﺶٍ

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar mengupah seorang laki-laki dari Bani Ad Diil sebagai
petunjuk jalan, dan dia adalah seorang beragama kafir Quraisy. (HR. Bukhari No. 2264)

Ini menjadi dasar bahwa meminta bantuan orang kafir adalah boleh, jika dalam keadaan lemah, dan masih sedikit.
Jika memang ini terlarang secara mutlak, tentu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadi orang pertama yang
mencegah dirinya sendiri untuk melakukan itu dan dia akan serukan kepada segenap manusia. Tetapi, kenyataan
justru menunjukkan sebaliknya, saat itu kaum muslimin yang tersisa di Mekkah tinggal berlima; Nabi, Abu Bakar,
putranya, Asma, dan Ali. Jumlah yang sedikit dan tentunya lemah. Mereka pun sudah memiliki tugas masing-
masing, putranya Abu Bakar tetap berada di Mekkah untuk mengawasi keadaan dan mencari=cari perkembangan
berita. Asma Radhiallau ‘Anha bertugas membawakan makanan untuk Nabi dan Abu Bakar, sementara Ali
Radhiallahu ‘Anhu berada di rumah nabi menggantikannya setelah nabi dikepung oleh gabungan berbagai kabilah
kaum kuffar Quraisy.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga pernah mendapatkan dukungan dari Musyrikin Bani Khuza’ah untuk
melawan musuhnya. Juga masih banyak peristiwa-peristiwa lainnya, sebagaimana yang nanti kami lampirkan.

Pandangan Para Ulama

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata tentang peristwa hijrah tersebut:

ﻭَﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ﺍﺳْﺘِﺌْﺠَﺎﺭُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢِ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮَ ﻋَﻠَﻰ ﻫِﺪَﺍﻳَﺔِ ﺍﻟﻄَّﺮِﻳﻖِ ﺇِﺫَﺍ ﺃُﻣِﻦَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻭﺍﺳﺘﺌﺠﺎﺭ ﺍﻟْﺈِﺛْﻨَﻴْﻦِ ﻭَﺍﺣِﺪًﺍ ﻋﻠﻰ ﻋﻤﻞ ﻭَﺍﺣِﺪ ﺟَﺎﺯَ

Dalam hadits ini menunjukkan bahwa seorang muslim mengupah orang kafir untuk membantunya memberikan
petunjuk jalan jika hal itu aman baginya, dan juga dua orang yang mengupah satu orang  dalam satu perbuatan, itu
adalah diperbolehkan. (Fathul Bari, 4/442-443)

Imam Ibnu Baththal Rahimahullah menjelaskan:

ﻋﺎﻣﺔ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ، ﻳﺠﻴﺰﻭﻥ ﺍﺳﺘﺌﺠﺎﺭﻫﻢ – ﺃﻱ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ – ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻟﻤﺎ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺬﻟﺔ ﻟﻬﻢ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﻤﻤﺘﻨﻊ ﺃﻥ ﻳﺆﺍﺟﺮ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﻧﻔﺴﻪ ﻣﻦ
ﺍﻟﻤﺸﺮﻙ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺇﺫﻻﻝ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ

Kebanyakan ahli fiqih membolehkan mengupah mereka –yaitu kaum musyrikin- ketika kebutuhannya mendesak dan
selainnya, dan karena hal itu dapat merendahkan mereka (musyrikin), sebaliknya seorang muslim janganlah menjadi
orang yang diupah oleh kaum musyrikin, karena hal itu dapat merendahkan seorang muslim. (Imam Ibnu Baththal,
Syarh Shahih  Al Bukhari, 6/387)

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata:

ﻓﻲ ﺍﺳﺘﺌﺠﺎﺭ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺃﺭﻳﻘﻂ ﺍﻟﺪﺅﻟﻲ ﻫﺎﺩﻳﺎ ﻓﻲ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﻬﺠﺮﺓ ﻭﻫﻮ ﻛﺎﻓﺮ ﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺟﻮﺍﺯ ﺍﻟﺮﺟﻮﻉ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮ ﻓﻲ
ﺍﻟﻄﺐ ﻭﺍﻟﻜﺤﻞ ﻭﺍﻷﺩﻭﻳﺔ ﻭﺍﻟﻜﺘﺎﺑﺔ ﻭﺍﻟﺤﺴﺎﺏ ﻭﺍﻟﻌﻴﻮﺏ ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻭﻻﻳﺔ ﺗﺘﻀﻤﻦ ﻋﺪﺍﻟﺔ ﻭﻻ ﻳﻠﺰﻡ ﻣﻦ ﻣﺠﺮﺩ ﻛﻮﻧﻪ ﻛﺎﻓﺮﺍ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻮﺛﻖ ﺑﻪ ﻓﻲ
ﺷﻲﺀ ﺃﺻﻼ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﺷﻲﺀ ﺃﺧﻄﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻻﻟﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﻭﻻ ﺳﻴﻤﺎ ﻓﻲ ﻣﺜﻞ ﻃﺮﻳﻖ ﺍﻟﻬﺠﺮﺓ .

Pada saat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengupahi Abdullah bin Uraikith Ad Du’aliy sebagai orang yang
menunjuki jalan pada waktu hijrah, dia dalam  keadaan kafir, menunjukkan bolehnya merujuk kepada orang kafir dalam hal kedokteran, pengobatan, tulis menulis, menghitung, dan semisalnya, selama pertolongan itu tidak
mengandung semakin kuatnya kekafirannya, maka tidak apa-apa memintanya sebagai petunjuk jalan apalagi jalan
untuk hijrah. (Bada’i Al Fawaid, 3/208)

Imam Al Hazimi mengatakan:
ﻭﺫﻫﺒﺖ ﻃﺎﺋﻔﺔ: ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻟﻺﻣﺎﻡ ﺃﻥ ﻳﺄﺫﻥ ﻟﻠﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ﺃﻥ ﻳﻐﺰﻭﺍ ﻣﻌﻪ ﻭﻳﺴﺘﻌﻴﻦ ﺑﻬﻢ ﻭﻟﻜﻦ ﺑﺸﺮﻃﻴﻦ:
)1( ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻗﻠﺔ ﻭﺗﺪﻋﻮ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ ﺇﻟﻰ ﺫﻟﻚ.
)2( ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻧﻮﺍ ﻣﻤﻦ ﻳﻮﺛﻖ ﺑﻬﻢ ﻓﻼ ﺗﺨﺶ ﺛﺎﺋﺮﺗﻬﻢ .

Segolongan ulama berpendapat: “Pemimpin bisa mengijinkan orang-orang musyrik bergabung bersamanya dalam
peperangan dan membantu kaum muslimin, dengan dua syarat:

Pertama, jumlah kaum muslimin hanya sedikit dan ada faktor yang mendorong kebutuhan itu.

Kedua, orang-orang musyrik tersebut bisa dipercaya dan tidak dikhawatiri akan memberontak.”  (Imam Al Hazimi,
Al I’tibar fin Naasikh wa Mansuukh, Hal. 219)

Al Hazimi menambahkan:
ﻭﻻ ﺑﺄﺱ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﻌﺎﻥ ﺑﺎﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﻗﺘﺎﻝ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ﺇﺫﺍ ﺧﺮﺟﻮﺍ ﻃﻮﻋﺎً ﻭﻻ ﻳﺴﻬﻢ ﻟﻬﻢ

“Boleh meminta pertolongan kepada orang musyrik untuk memerangi orang musyrik lainnya, selagi mereka
bergabung dengan patuh dan tidak memberi andil bagi musuh.” (Ibid, Hal. 220)

Imam Ibnul Qayyim mengatakan:

ﺍﻻﺳﺘﻌﺎﻧﺔ ﺑﺎﻟﻤﺸﺮﻙ ﺍﻟﻤﺄﻣﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﺟﺎﺋﺰﺓ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ ﻷﻥ ﻋﻴﻨﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻟﺨﺰﺍﻋﻲ ﻛﺎﻥ ﻛﺎﻓﺮﺍً ﺇﺫ ﺫﺍﻙ، ﻭﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﻠﺤﺔ ﺃﻧﻪ
ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﺧﺘﻼﻃﻪ ﺑﺎﻟﻌﺪﻭ ﻭﺃﺧﺬﻩ ﺃﺧﺒﺎﺭﻫﻢ

Meminta pertolongan orang musyrik yang terpercaya dalam medan jihad adalah dibolehkan ketika dibutuhkan,
sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri pernah meminta pertolongan kepada seorang dari Bani Khuzaah
yang kafir, dan di sini adanya maslahat karena orang yang diminta bantuan tersebut bisa bergaul dengan musuh dan
bisa diambil berita tentang mereka darinya. (Zaadul Ma’ad, 3/303)

Imam Ibnul Qayyim juga berkata:

ﻟﻺﻣﺎﻡ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﻌﻴﺮ ﺳﻼﺡ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ﻭﻋﺪﺗﻬﻢ ﻟﻘﺘﺎﻝ ﻋﺪﻭﻩ. ﻛﻤﺎ ﺍﺳﺘﻌﺎﺭ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺩﺭﻉ ﺻﻔﻮﺍﻥ ﺑﻦ ﺃﻣﻴﺔ ﻭﻫﻮ ﻳﺆﻣﺌﺬ ﻣﺸﺮﻙ

Seorang pemimpin bisa meminjam senjata dari kaum musyrikin dan apa saja yang mereka miliki untuk memerangi
musuh. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminjam baju perang dari Shafwan bin Umayyah
yang saat itu masih musyrik. (Ibid, 3/479)

Imam Muhamamd bin Abdul Wahhab Rahimahullah mengatakan:

ﺍﻻﻧﺘﻔﺎﻉ ﺑﺎﻟﻜﻔﺎﺭ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺃﻣﻮﺭ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻟﻴﺲ ﻣﺬﻣﻮﻣﺎً ﻟﻘﺼﺔ ﺍﻟﺨﺰﺍﻋﻲ

Memanfaatkan kaum kuffar pada sebagian urusan agama bukanlah termasuk tercela berdasarkan kisah seorang dari
Bani Khuza’ah. (Mulhaq Mushannafat Al Imam Muhamamd bin Abdul Wahhab Hal. 7)

Demikianlah, dapat disimpulkan dari penjelasan para imam di atas:

– Tidak apa-apa memanfaatkan bantuan orang kafir jika dalam keadaan lemah dan masih sedikit, sebagaimana
memanfaatkan non muslim menjadi caleg partai Islam di daerah minoritas muslimnya. Ini adalah keadaan yang
memang tidak bisa disamakan dengan keadaan normal. Jika memang mutlak terlarang, pasti Nabi Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam tidak akan memanfaatkan bantuan Abdullah bin Uraikith, bantuan Musyrikin Bani Khuza’ah, dan lainnya,
ketika masih dalam keadaan awal da’wah Islam yang sedikit dan belum memiliki power yang cukup.

– Lalu mereka wajib amanah dan mau patuh kepada kaum muslimin (dalam konteks Partai Islam, mereka mau
tunduk dengan AD/ART, Asas Islam, dan Platformnya)

bersambung…
——————————————-*
1. Imam Al Haitsami berkata tentang hadits ini:
ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺭﺟﺎﻝ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ .

Diriwayatkan oleh Ath Thabarani dan para perawinya adalah perawi shahih. (Majma’ Az Zawaid, 10/63)

Syaikh Al Albani juga berkata tentang hadits ini:
ﻗﻠﺖ : ﻭﻫﺬﺍ ﺇﺳﻨﺎﺩ ﺻﺤﻴﺢ ﻻ ﺃﻋﺮﻑ ﻟﻪ ﻋﻠﺔ؛ ﻓﺈﻥ ﺭﺟﺎﻟﻪ ﻛﻠﻬﻢ ﺛﻘﺎﺕ

Saya berkata: isnad hasits ini shahih, saya tidak mengetahui adanya cacat, dan semua perawinya adalah terpercaya.
(As Silsilah Ash Shahihah No. 3113)

Imam An Nawawi menyebutkan:
ﻭﻓﻴﻪ ﻣﻌﺠﺰﺍﺕ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻟﺮﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻣﻨﻬﺎ ﺍﺧﺒﺎﺭﻩ ﺑﺄﻥ ﺍﻻﻣﺔ ﺗﻜﻮﻥ ﻟﻬﻢ ﻗﻮﺓ ﻭﺷﻮﻛﺔ ﺑﻌﺪﻩ

Pada hadits ini terdapat mu’jizat yang jelas bagi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, di antaranya adalah
pengabaran Beliau bahwa bagi mereka akan ada umat yang menjadi kekuatan dan senjata setelah itu. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16/97. Mawqi’ Ruh Al Islam)

2. Imam Al Haitsami berkata tentang hadits ini:
ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﻳﻌﻠﻰ ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺭﺟﺎﻝ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ .

Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan para perawinya adalah perawi shahih. (Majma’ Az Zawaid, 10/64)

Sumber: http://www.ustadzfarid.com