Oleh: Ust. Farid Nu’man

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata tentang peristwa hijrah tersebut:

ﻭَﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ﺍﺳْﺘِﺌْﺠَﺎﺭُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢِ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮَ ﻋَﻠَﻰ ﻫِﺪَﺍﻳَﺔِ ﺍﻟﻄَّﺮِﻳﻖِ ﺇِﺫَﺍ ﺃُﻣِﻦَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻭﺍﺳﺘﺌﺠﺎﺭ ﺍﻟْﺈِﺛْﻨَﻴْﻦِ ﻭَﺍﺣِﺪًﺍ ﻋﻠﻰ ﻋﻤﻞ ﻭَﺍﺣِﺪ ﺟَﺎﺯَ

Dalam hadits ini menunjukkan bahwa seorang muslim mengupah orang kafir untuk membantunya memberikan
petunjuk jalan jika hal itu aman baginya, dan juga dua orang yang mengupah satu orang  dalam satu perbuatan, itu
adalah diperbolehkan. (Fathul Bari, 4/442-443)

Imam Ibnu Baththal Rahimahullah menjelaskan:

ﻋﺎﻣﺔ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ، ﻳﺠﻴﺰﻭﻥ ﺍﺳﺘﺌﺠﺎﺭﻫﻢ – ﺃﻱ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ – ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻟﻤﺎ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺬﻟﺔ ﻟﻬﻢ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﻤﻤﺘﻨﻊ ﺃﻥ ﻳﺆﺍﺟﺮ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﻧﻔﺴﻪ ﻣﻦ
ﺍﻟﻤﺸﺮﻙ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺇﺫﻻﻝ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ

Kebanyakan ahli fiqih membolehkan mengupah mereka –yaitu kaum musyrikin- ketika kebutuhannya mendesak dan
selainnya, dan karena hal itu dapat merendahkan mereka (musyrikin), sebaliknya seorang muslim janganlah menjadi
orang yang diupah oleh kaum musyrikin, karena hal itu dapat merendahkan seorang muslim. (Imam Ibnu Baththal,
Syarh Shahih  Al Bukhari, 6/387)

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata:

ﻓﻲ ﺍﺳﺘﺌﺠﺎﺭ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺃﺭﻳﻘﻂ ﺍﻟﺪﺅﻟﻲ ﻫﺎﺩﻳﺎ ﻓﻲ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﻬﺠﺮﺓ ﻭﻫﻮ ﻛﺎﻓﺮ ﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺟﻮﺍﺯ ﺍﻟﺮﺟﻮﻉ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮ ﻓﻲ
ﺍﻟﻄﺐ ﻭﺍﻟﻜﺤﻞ ﻭﺍﻷﺩﻭﻳﺔ ﻭﺍﻟﻜﺘﺎﺑﺔ ﻭﺍﻟﺤﺴﺎﺏ ﻭﺍﻟﻌﻴﻮﺏ ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻭﻻﻳﺔ ﺗﺘﻀﻤﻦ ﻋﺪﺍﻟﺔ ﻭﻻ ﻳﻠﺰﻡ ﻣﻦ ﻣﺠﺮﺩ ﻛﻮﻧﻪ ﻛﺎﻓﺮﺍ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻮﺛﻖ ﺑﻪ ﻓﻲ
ﺷﻲﺀ ﺃﺻﻼ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﺷﻲﺀ ﺃﺧﻄﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻻﻟﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﻭﻻ ﺳﻴﻤﺎ ﻓﻲ ﻣﺜﻞ ﻃﺮﻳﻖ ﺍﻟﻬﺠﺮﺓ .

Pada saat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengupahi Abdullah bin Uraikith Ad Du’aliy sebagai orang yang
menunjuki jalan pada waktu hijrah, dia dalam  keadaan kafir, menunjukkan  bolehnya merujuk kepada orang kafir
dalam hal kedokteran, pengobatan, tulis menulis, menghitung, dan semisalnya, selama pertolongan itu tidak
mengandung semakin kuatnya kekafirannya, maka tidak apa-apa memintanya sebagai petunjuk jalan apalagi jalan
untuk hijrah. (Bada’i Al Fawaid, 3/208)

Imam Al Hazimi mengatakan:
ﻭﺫﻫﺒﺖ ﻃﺎﺋﻔﺔ: ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻟﻺﻣﺎﻡ ﺃﻥ ﻳﺄﺫﻥ ﻟﻠﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ﺃﻥ ﻳﻐﺰﻭﺍ ﻣﻌﻪ ﻭﻳﺴﺘﻌﻴﻦ ﺑﻬﻢ ﻭﻟﻜﻦ ﺑﺸﺮﻃﻴﻦ:
)1( ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻗﻠﺔ ﻭﺗﺪﻋﻮ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ ﺇﻟﻰ ﺫﻟﻚ.
)2( ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻧﻮﺍ ﻣﻤﻦ ﻳﻮﺛﻖ ﺑﻬﻢ ﻓﻼ ﺗﺨﺶ ﺛﺎﺋﺮﺗﻬﻢ .

Segolongan ulama berpendapat: “Pemimpin bisa mengijinkan orang-orang musyrik bergabung bersamanya dalam
peperangan dan membantu kaum muslimin, dengan dua syarat:

Pertama, jumlah kaum muslimin hanya sedikit dan ada faktor yang mendorong kebutuhan itu.
Kedua, orang-orang musyrik tersebut bisa dipercaya dan tidak dikhawatiri akan memberontak.”  (Imam Al Hazimi,
Al I’tibar fin Naasikh wa Mansuukh, Hal. 219)

Al Hazimi menambahkan:
ﻭﻻ ﺑﺄﺱ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﻌﺎﻥ ﺑﺎﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﻗﺘﺎﻝ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ﺇﺫﺍ ﺧﺮﺟﻮﺍ ﻃﻮﻋﺎً ﻭﻻ ﻳﺴﻬﻢ ﻟﻬﻢ

“Boleh meminta pertolongan kepada orang musyrik untuk memerangi orang musyrik lainnya, selagi mereka
bergabung dengan patuh dan tidak memberi andil bagi musuh.” (Ibid, Hal. 220)

Imam Ibnul Qayyim mengatakan:

ﺍﻻﺳﺘﻌﺎﻧﺔ ﺑﺎﻟﻤﺸﺮﻙ ﺍﻟﻤﺄﻣﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﺟﺎﺋﺰﺓ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ ﻷﻥ ﻋﻴﻨﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻟﺨﺰﺍﻋﻲ ﻛﺎﻥ ﻛﺎﻓﺮﺍً ﺇﺫ ﺫﺍﻙ، ﻭﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﻠﺤﺔ ﺃﻧﻪ
ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﺧﺘﻼﻃﻪ ﺑﺎﻟﻌﺪﻭ ﻭﺃﺧﺬﻩ ﺃﺧﺒﺎﺭﻫﻢ

Meminta pertolongan orang musyrik yang terpercaya dalam medan jihad adalah dibolehkan ketika dibutuhkan,
sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri pernah meminta pertolongan kepada seorang dari Bani Khuzaah
yang kafir, dan di sini adanya maslahat karena orang yang diminta bantuan tersebut bisa bergaul dengan musuh dan
bisa diambil berita tentang mereka darinya. (Zaadul Ma’ad, 3/303)

Imam Ibnul Qayyim juga berkata:

ﻟﻺﻣﺎﻡ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﻌﻴﺮ ﺳﻼﺡ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ﻭﻋﺪﺗﻬﻢ ﻟﻘﺘﺎﻝ ﻋﺪﻭﻩ. ﻛﻤﺎ ﺍﺳﺘﻌﺎﺭ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺩﺭﻉ ﺻﻔﻮﺍﻥ ﺑﻦ ﺃﻣﻴﺔ ﻭﻫﻮ ﻳﺆﻣﺌﺬ ﻣﺸﺮﻙ

Seorang pemimpin bisa meminjam senjata dari kaum musyrikin dan apa saja yang mereka miliki untuk memerangi
musuh. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminjam baju perang dari Shafwan bin Umayyah
yang saat itu masih musyrik. (Ibid, 3/479)

Imam Muhamamd bin Abdul Wahhab Rahimahullah mengatakan:
ﺍﻻﻧﺘﻔﺎﻉ ﺑﺎﻟﻜﻔﺎﺭ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺃﻣﻮﺭ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻟﻴﺲ ﻣﺬﻣﻮﻣﺎً ﻟﻘﺼﺔ ﺍﻟﺨﺰﺍﻋﻲ

Memanfaatkan kaum kuffar pada sebagian urusan agama bukanlah termasuk tercela berdasarkan kisah seorang dari
Bani Khuza’ah. (Mulhaq Mushannafat Al Imam Muhamamd bin Abdul Wahhab Hal. 7)

Sumber: http://www.ustadzfarid.com