Menurut Ibnu Abbas dan Thawus, ini merupakan kufur yg tdk mengeluarkan pelakunya dari agama. Tapi siapa yg melakukannya layak mendapat sebutan kufur, tdk seperti kufur kepada Allah dan hari akhirat. Atha’ menyebutnya kufur tdk seperti kufur yg semestinya, dzalim tdk seperti dzalim yg semestinya, fusuk tdk seperti fusuk yg semestinya.

Sementara menurut Ibnu Qayyim, memutuskan perkara tidak menurut apa yg diturunkan Allah bisa berarti dua jenis kufur, kecil dan besar, tergantung dari keadaan pelakunya. Siapa yg meyakini keharusan memutuskan perkara menurut apa yg diturunkan Allah, namun dia menyimpang darinya karena durhaka, sementara dia juga mengakui bahwa dia layak mendapat hukuman, maka ini disebut kufur kecil. Jika dia yakin bahwa itu merupakan hukum Allah, namun dia yakin bahwa penerapannya tdk wajib dan boleh memilih yg lain, maka ini disebut kufur besar.

(Ibnul Qayyim, Madarijus Salikin, hlm. 102)