Oleh: Nandang Burhanudin

Kini saya memahami, di negara demokratis-lah hak-hak prinsipil kita sebagai manusia dihargai. Kita bebas: mau taat atau mau maksiat, mau terpelajar atau kurang ajar, mau memuji atau mencaci. Tinggal kembali kepada diri kita.

Hidup di bawah pemerintahan junta, apapun dibatasi:

1. Masjid ditutup, hanya untuk shalat.
2. TIdak boleh ada kajian, pengajian, bahkan khutbah harus dilaporkan ke pejabat junta.
3. Status FB-Twitter-atau medsos lainnya diawasi.
4. Gerak-gerik gak bebas.
5. Bicara terbatas. Jangankan untuk mengatakan; HARAM-KAFIR atau mencela sang junta, sedikit isyarat saja sudah ke
penjara.

Contohlah Negeri Sungai Nil, kini 7000 telah syahid dan puluhan ribu luka-luka. Penangkapan terjadi dimana-mana.

Jadi, bersyukurlah kita di Indonesia, kaum sekuler-liberalnya belum menjadi mainstream. Justru gerak menuju Indonesia bersih, harus dimasksimalkan. Mari orang-orang taat bersaing dengan orang-orang bejat. Mari para pejuang syariat berlomba dengan pejuang aurat.

Walaupun show music penuh karena di lapangan. Tapi, jangan lupa jumlah yang shalat masih lebih banyak jika jamaah itu dikumpulkan dalam satu lapangan.

Walaupun pendukung artis berjibun. Namun pendukung para asatidzah juga tak terbendung.

Jadi, jangan tertipu bujuk rayu pejuang yang antidemokrasi. Karena ketika kita GOLPUT dan tidak “mau” bersaing dengan kaum Liberal-Sekuler-LGBT di kotak suara, percayalah, parlemen yang membuat UU akan dipenuhi mereka.

Benar, UU Republik itu dibuat manusia. Tapi jika lebih banyak manusia shalih dan taat, bukankah akan seiring sejalan dengan syariat?

Benar Al-QUr’an dan Sunnah Nabi hukum terbaik. Lalu apakah Al-Qur’an dan Sunnah punya kaki tangan untuk
menjelmakannya dalam kehidupan? Bukankah hukum-hukum Al-Qur’an dan Sunnah itu harus diperjuangkan? Siapa yang
memeperjuangkan? Manusia atau malaikat? Pasti manusia bukan?

Jadi, pahamilah! Gerakan antidemoksrasi dan mengajak GOLPUT hanya menjalankan kepentingan BIG BOSS seiring sejalan dengan LIBERALISASI dan SEKULARISASI. Keduanya ibarat dua bandul. Seakan-akan bertolak belakang, tapi suatu waktu akan bertemu. Yaitu: MEMARJINALKAN ISLAM DAN MENYINGKIRKAN UMAT ISLAM DARI KEHIDUPAN. Waspadalah!